Viral! Beras Bantuan Membusuk di Tapteng, Penjaga Gudang Akhirnya Angkat Bicara
Warga menemukan beras bantuan bencana yang menumpuk tidak terurus hingga mengalami kerusakan dan membusuk di lokasi eks posko gudang logistik, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Dibaca Juga : DPR Sahkan UU PPRT: Pekerja Rumah Tangga Kini Resmi Dilindungi Negara
Temuan ini awalnya diviralkan di media sosial oleh akun Lasman Sitompul dan Sondang Tambunan hingga mengejutkan banyak pihak dan mendapat respons dari DPRD Tapteng dan Provinsi Sumatera Utara, mengingat kebutuhan masyarakat pascabencana saat ini masih merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.
Dalam video berdurasi 50 detik dan 58 detik itu memperlihatkan tumpukan bantuan tersebut berupa sembako, seperti beras, pakaian, selang, mi instan, dan kebutuhan dasar lainnya yang dibiarkan tanpa penanganan yang layak. Akibat penyimpanan yang tidak sesuai standar, puluhan karung beras terlihat sudah berkutu dan berjamur.
“Logistik menumpuk sampai busuk, dibiarkan begini, sampai berjamur. Logistik ditumpuk di sini, ditahan sampai busuk. Lebih baik terbuang begitu saja daripada dibagikan kepada masyarakat,” ujar Lasman Sitompul.
Sementara itu, penjaga posko gudang logistik Hutanabolon, Supriandi, menyampaikan bahwa informasi yang disampaikan dalam video tidaklah benar. Pihaknya tidak melakukan penimbunan bantuan bencana dan tidak ada informasi yang perlu ditutup-tutupi.
“Sebenarnya itu tidak ditimbun, karena itu beras yang basah itu dulu. Masuknya 14 ton. Itu kan banyak, bukan sedikit. Jadi yang basah itu, yang di bawahnya yang berair,” ujar Supriandi saat ditemui di posko gudang logistik Hutanabolon, Rabu (21/4/2026).
Ia menjelaskan, awalnya posko gudang logistik tidak seperti sekarang, melainkan terbuat dari tenda darurat yang jika hujan, air masuk dari bagian bawah tenda. Pihaknya juga selama ini tidak mengetahui bagian bawah ternyata basah terkena air.
“Jadi memang banyak yang bilang, kenapa tidak dibagikan? Bagaimana cara membagikan? Kami pun tidak tahu di bawah basah. Jadi ketika sudah habis semua dibagikan berasnya yang sebanyak 14 ton itu dari pemerintah, barulah kami tahu bagian bawahnya basah. Jadi kami kumpulkan jadi satu. Masyarakat yang meminta, kami berikan, walaupun ini beras busuk untuk ternaknya. Itu saja klarifikasi dari kami soal beras yang busuk,” katanya.
Saat ditanya alasan tidak segera dibagikan kepada masyarakat, Supriandi menegaskan bahwa pihaknya tidak mengetahui kondisi beras di bagian bawah yang basah.
“Seperti yang saya sampaikan, beras itu banyak. Kami tidak tahu yang di bawah itu basah, meski sudah kami ganjal. Saat hujan deras pada bulan Desember, air masuk ke bagian bawah. Kami tidak tahu di bawahnya itu basah,” ucapnya.
Menurutnya, bantuan beras yang berada di bagian atas sudah habis dibagikan, sedangkan yang di bagian bawah akhirnya diketahui membusuk akibat terkena air dan tidak mungkin disalurkan kepada masyarakat.
Dibaca Juga : Dinkes Sumut Dalami Kasus Dugaan Malapraktik di RSU Muhammadiyah Medan
“Kalau yang di atas sudah dibagi semua, yang busuk tidak dibagi, namun kami kumpulkan. Tidak mungkin beras busuk dibagikan kepada masyarakat. Kami hanya menginformasikan, siapa yang mau untuk ternak bisa diambil, karena situasi ini bencana, yang punya ternak pun sudah tidak ada,” jelasnya.






