Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Imbas Harga LPG Nonsubsidi, Rumah Makan di Medan Kurangi Porsi dan Naikkan Tarif

Imbas Harga LPG Nonsubsidi, Rumah Makan di Medan Kurangi Porsi dan Naikkan Tarif

Lonjakan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu keluhan dari para pelaku usaha kuliner di Kota Medan.

Para pemilik rumah makan mengaku kesulitan menjaga margin keuntungan karena biaya operasional dapur membengkak signifikan di tengah daya beli masyarakat yang belum stabil.

Kenaikan harga ini memaksa para pengusaha makanan melakukan penyesuaian cepat, mulai dari menaikkan harga jual hingga menyiasati porsi makanan agar tetap bisa bertahan.

Pemilik Rumah Makan Padang di kawasan Jalan Klambir Lima, Putra, mengungkapkan bahwa kenaikan harga gas nonsubsidi ukuran 12 kg sangat membebani usahanya yang setiap hari bergantung penuh pada bahan bakar tersebut.

“Sekarang harga gas 12 kg sudah naik tinggi sekali, sementara dalam sehari kami bisa habis dua sampai tiga tabung. Kalau harga makanan tidak kami naikkan sedikit, kami nombok (rugi) di biaya masak. Mau tidak mau, beberapa menu terpaksa kami naikkan Rp1.000 sampai Rp2.000 per porsi,” kata Putra, Selasa (28/4/2026).

Menurut Putra, ia lebih memilih menaikkan harga sedikit daripada mengurangi kualitas rasa, meskipun risiko kehilangan pelanggan tetap menghantui.

Baca juga : Harga LPG Non Subsidi Naik di Sumut, Pedagang Cemas Konsumen Pindah ke Gas Melon

“Pelanggan pasti mengeluh, tapi kami jelaskan kalau modal gas dan bahan pokok semuanya naik. Kami berharap pemerintah bisa mengontrol harga gas ini karena kami usaha kecil sangat terasa dampaknya,” ujarnya.

Kondisi serupa dialami oleh Yanti, pengusaha warung nasi ayam penyet di area Medan Gaperta. Berbeda dengan Putra, Yanti memilih untuk tetap mempertahankan harga lama namun terpaksa melakukan penyesuaian pada porsi pelengkap.

“Saya belum berani naikkan harga nasi, takut pelanggan lari ke tempat lain. Jadi cara menyiasatinya, porsi sayur atau sambalnya sedikit dikurangi. Gas nonsubsidi ini kan kebutuhan pokok kami, kalau harganya terus naik seperti ini, untung bersih kami makin tipis, hampir habis cuma buat beli gas,” kata Yanti.

Yanti mengaku khawatir jika tren kenaikan harga energi ini terus berlanjut hingga pertengahan tahun. Ia berharap ada perhatian khusus atau insentif bagi pelaku UMKM kuliner agar tidak gulung tikar.

“Kami ini terjepit di tengah. Mau pakai gas melon (subsidi) takut dirazia karena kami dianggap usaha mapan, tapi pakai gas nonsubsidi harganya tidak masuk di kantong pedagang kecil seperti kami. Kalau bisa, ada harga khususlah buat kami para pedagang ini,” ucapnya.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan