Gelombang Protes Iran Mematikan: Korban Tewas Diperkirakan Lebih dari 500 Orang
Lebih dari 500 orang diperkirakan tewas dalam gelombang unjuk rasa yang melanda Iran. Lembaga pemantau hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), mencatat sedikitnya 490 demonstran dan 48 anggota aparat keamanan meninggal dunia dalam rangkaian aksi tersebut. Selain itu, lebih dari 10.600 orang dilaporkan telah ditahan.
Dibaca Juga : Pra Rekonstruksi Perjudian–Narkoba Digelar Polrestabes Medan di Jermal 15
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban jiwa. Kantor berita Reuters juga menyatakan belum dapat mengonfirmasi laporan HRANA secara independen.
Iran dilanda aksi protes massal sejak 28 Desember lalu. Gelombang demonstrasi terbesar sejak 2022 itu awalnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan krisis moneter di Teheran. Seiring waktu, tuntutan massa berkembang menjadi seruan untuk perubahan rezim dan penggulingan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Amerika Serikat dan Israel sejak awal menyatakan dukungan terhadap warga Iran yang melakukan protes. Presiden AS Donald Trump bahkan menegaskan kesiapannya untuk membantu rakyat Iran apabila aparat keamanan melakukan tindakan represif.
Pada Selasa (13/1/2026), Trump dijadwalkan menggelar pertemuan dengan sejumlah penasihat senior guna membahas situasi di Iran. Laporan The Wall Street Journal sebelumnya menyebutkan bahwa Trump mempertimbangkan berbagai opsi intervensi, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Menanggapi sikap tersebut, pemerintah Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mencampuri urusan dalam negeri mereka. Teheran juga mengancam akan menyerang pangkalan militer dan kapal-kapal AS jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.
Sejak Kamis (8/1/2026), akses internet di Iran dilaporkan terputus seiring meningkatnya eskalasi protes. Para demonstran disebut membakar gedung-gedung pemerintah, kendaraan, serta berbagai fasilitas umum.
Lembaga-lembaga HAM memperkirakan aksi unjuk rasa telah menyebar ke seluruh provinsi di Iran. Sebagian warga dilaporkan menyerukan kembalinya sistem monarki dengan Reza Pahlavi sebagai pemimpin negara.
Dibaca Juga : Pelaku Pencabulan Anak Ditangkap Warga di Batu Bara
Reza Pahlavi merupakan putra mahkota terakhir Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi, yang saat ini hidup di pengasingan di luar negeri.






