Pegiat Lingkungan Soroti Gerakan Penghijauan Danau Toba: Jangan Hanya Seremoni Tanpa Aksi Nyata
Pegiat lingkungan Dr. Wilmar Eliezer Simanjorang, menegaskan gerakan penghijauan Danau Toba tidak boleh berhenti hanya sebatas seremoni penanaman pohon. Menurutnya, hal terpenting dalam penghijauan adalah perawatan tanaman agar mampu tumbuh dan memberi manfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.
Dibaca Juga : Sidang Sengketa Tanah di PN Sibolga Memanas, Saksi Tergugat Dinilai Berbelit-belit
Pernyataan itu disampaikan Wilmar saat menanggapi kegiatan penanaman pohon yang beberapa waktu lalu dilaksanakan di lereng Gunung Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir, Kamis (7/5/2026).
“Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi merawat pohon yang ditanam supaya tumbuh dengan baik,” ujar Wilmar.
Ia menjelaskan, kegiatan yang digelar Pergerakan Penyelamatan Kawasan Danau Toba bersama Persekutuan Muda-Mudi HKBP Distrik Samosir tersebut diikuti sekitar 75 peserta dari kalangan muda-mudi gereja dan komunitas pegiat lingkungan.
Penanaman pohon dilakukan sebagai upaya pelestarian kawasan Danau Toba sekaligus penghijauan lereng Pusuk Buhit yang memiliki nilai penting bagi ekosistem dan budaya Batak.
Menurut Wilmar, banyak gerakan penghijauan selama ini hanya fokus pada penanaman tanpa diikuti pengawasan dan perawatan secara berkelanjutan. Akibatnya, tidak sedikit pohon yang mati sebelum tumbuh besar.
“Banyak yang menanam pohon, tetapi tidak seberapa yang merawatnya sampai tumbuh besar. Menanam pohon harus dipahami sebagai tindakan yang membutuhkan cinta dan kesabaran,” katanya.
Wilmar mengibaratkan merawat pohon seperti menjaga hubungan kasih dan merawat anak yang baru lahir. Menurutnya, diperlukan perhatian, kesetiaan, serta konsistensi agar pohon dapat bertahan hidup dan berkembang dengan baik.
“Tidak cukup hanya hadir di awal, tetapi harus terus disayangi, disiram, dipupuk, dan dijaga setiap saat,” ujarnya lagi.
Ia juga menilai pelestarian lingkungan harus dimulai dari perubahan pola pikir masyarakat terhadap alam. Menurutnya, alam tidak boleh dipandang hanya sebagai objek pemanfaatan, tetapi juga harus dijaga sebagai sumber kehidupan generasi mendatang.
Wilmar mengatakan kawasan Danau Toba, khususnya lereng Gunung Pusuk Buhit, memiliki fungsi penting sebagai penyangga ekosistem. Karena itu, kerusakan hutan dan berkurangnya tutupan pohon harus menjadi perhatian bersama.
“Kalau kawasan ini rusak, dampaknya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga terhadap sumber air, pertanian, dan kehidupan masyarakat sekitar Danau Toba,” tuturnya.
Ia berharap generasi muda gereja dapat menjadi pelopor dalam gerakan menjaga lingkungan, dimulai dari hal sederhana seperti menanam dan merawat pohon di lingkungan masing-masing.
Menurut Wilmar, keterlibatan anak muda dalam kegiatan penghijauan menjadi modal penting untuk menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap kelestarian alam sejak dini.
Dibaca Juga : Usai Divonis Lepas, Terdakwa Penipuan Siap Tempuh Langkah Hukum terhadap Oknum Polis
“Lingkungan yang hijau dan terjaga bukan hanya warisan untuk hari ini, tetapi titipan yang harus diselamatkan bagi anak cucu kita ke depan,” katanya.






