Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Di Bawah Asuhan Buyut, Anak 9 Tahun Ini Menanggung Luka Akibat Keluarga Broken Home

Di Bawah Asuhan Buyut, Anak 9 Tahun Ini Menanggung Luka Akibat Keluarga Broken Home

Di sebuah rumah sederhana, Koko (bukan nama sebenarnya) tumbuh tanpa kehadiran utuh kedua orang tuanya. Sejak usia dua tahun, ia diasuh oleh buyutnya, RH, setelah ayah dan ibunya berpisah tujuh tahun lalu.

Dibaca Juga : Pemprov Sumut Imbau Korban Bencana Tapteng Bersabar, Pendataan BNBA Dikebut

Ibunya kini bekerja di Malaysia, sementara sang ayah tak lagi terlibat dalam kehidupannya. Bagi Koko, RH bukan sekadar keluarga. Ia adalah tempat pulang, tempat bergantung, sekaligus sosok yang menggantikan peran orang tua.

“Dari kecil sama saya. Dia enggak mau ikut bapaknya, karena ada ibu tiri. Jadi saya yang urus semuanya,” kata RH saat ditemui di kediamannya, Kamis (30/4/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, RH hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan es keliling saat sore hari. Sementara biaya hidup lainnya dibantu ibunya Koko yang bekerja menjadi TKI. “Saya jualan es kalau sore. Anak-anak main bola di lapangan dekat sini,” tuturnya.

Kehidupan sederhana itu berjalan apa adanya, hingga sebuah malam di akhir pekan mengubah segalanya. Sabtu malam itu, Koko pamit kepada buyutnya untuk menginap di rumah keluarga. Izin diberikan tanpa kecurigaan. Namun, Koko tak pernah sampai ke tujuan. Ia justru bermain futsal bersama teman-temannya hingga larut malam.

Sekitar pukul 23.00 WIB, setelah permainan usai dan anak-anak lain pulang, seorang pria yang dikenalnya, Roni, mengajaknya pergi. “Katanya diajak jalan-jalan. Selama ini memang dia baik sama anak ini, jadi cucu saya percaya. Tapi saya nggak pernah kenal,” kata RH.

Kebaikan yang dianggap Koko itu menjadi celah. Ia dibawa berkeliling sebelum akhirnya diajak ke tempat tinggal Roni. Di sanalah, menurut pengakuan Koko, peristiwa yang meninggalkan luka itu terjadi.

“Jam dua malam, katanya di situ dia diapa-apain. Habis itu dia lari. Dikejar, tapi dia sembunyi di semak-semak, sampai subuh baru berani pulang,” tuturnya.

Pukul 05.00 WIB, Koko tiba di rumah dalam kondisi lelah dan ketakutan. Ia sempat menutupi kejadian itu, mengaku tidur di rumah teman. Namun, kekhawatiran sang buyut akhirnya membuatnya bercerita.

“Saya enggak tega lihat dia. Masih kecil, tapi sudah kena musibah begini,” ucap RH dengan suara bergetar.

Sejak kecil, Koko tumbuh dalam keterbatasan perhatian orang tua. Kondisi itu, tanpa disadari, membuatnya mudah percaya kepada orang lain yang bersikap baik.

“Anak ini mudah percaya sama orang yang baik-baik sama dia. Karena mungkin dia kurang perhatian orang tua,” katanya.

Luka yang dialami Koko tak hanya terasa secara fisik, tetapi juga merambat ke sisi psikologis. Di sekolah, kabar yang mulai beredar membuatnya menjadi bahan gunjingan. Ia bahkan sempat pulang dalam keadaan menangis setelah mendengar bisik-bisik teman sekolahnya.

RH berusaha melindungi cucunya dari sorotan yang berlebihan. Ia telah meminta pihak sekolah untuk tidak membesar-besarkan kejadian tersebut.

“Saya sudah bilang ke gurunya, jangan digembar-gemborkan. Kasihan anak ini, nanti terganggu pikirannya,” ujarnya.

Kini, di tengah keterbatasan dan kesederhanaan hidup, RH melakukan peran ganda, sebagai orang tua, pelindung, sekaligus penguat. Ia hanya ingin Koko kembali menjalani hari-hari seperti anak-anak lain yang bermain, belajar, dan tertawa tanpa bayang-bayang trauma.

Dibaca Juga : Dua Pelaku Curanmor di Langkat Ditangkap, Modus Pura-Pura Berburu untuk Tipu Warga

Di rumah itu, di antara suara langkah kecil dan gerobak es yang didorong setiap sore, seorang buyut berjuang menjaga masa depan cucunya agar tidak ikut retak oleh luka yang datang diam-diam. “Saya pun sebenarnya sudah capek. Tapi mau gimana lagi,” ucapnya.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan