Analisasumut.com
Beranda AKTUAL Rupiah Menguat, IHSG Dibuka Hijau Seiring Redanya Gejolak Timur Tengah

Rupiah Menguat, IHSG Dibuka Hijau Seiring Redanya Gejolak Timur Tengah

Pasar keuangan global dan domestik mendapat sentimen positif pagi ini setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi berakhirnya konflik dengan Iran memicu koreksi tajam pada harga minyak mentah dunia, yang langsung direspons positif oleh aset-aset berisiko dan komoditas emas.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan meredanya kekhawatiran perang telah mengubah peta pergerakan instrumen keuangan pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3/2026).

Harga minyak mentah dunia jenis WTI kini bergerak di kisaran 88 dolar AS per barel, sementara jenis Brent berada di sekitar 92 dolar AS per barel. Angka ini turun signifikan setelah sebelumnya sempat menyentuh level psikologis 113 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik Iran-AS/Israel.

“Penurunan harga minyak ini memicu optimisme pasar bahwa ancaman stagflasi mulai mereda. Spekulasi mengenai penundaan pemangkasan suku bunga acuan (The Fed) juga mulai berkurang, memberikan ruang napas bagi pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia,” kata Gunawan.

Baca juga : HMI Medan Soroti Langkah Presiden Prabowo Gabung BoP Buatan Trump

Mata uang Garuda merespons positif pelemahan indikator keuangan AS. Pagi ini, rupiah ditransaksikan menguat ke level Rp16.860 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh melemahnya USD Index ke level 98,73 dan penurunan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke level 4,113 persen.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka menguat di level 7.443. Pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data penjualan ritel dalam negeri yang dijadwalkan hari ini sebagai indikator daya beli domestik.

Meski sentimen risiko membaik, harga emas dunia tetap menunjukkan penguatan dengan naik ke level 5.133 dolar AS per ons troy, atau setara dengan kisaran Rp2,8 juta per gram.

“Harga emas relatif stabil meski ada ancaman stagflasi sebelumnya. Fokus pasar tetap tertuju pada dinamika Timur Tengah, karena eskalasi sekecil apa pun bisa kembali mengubah arah pasar dalam sekejap,” ucap Gunawan.

Meskipun agenda ekonomi domestik cukup padat, pergerakan pasar keuangan di tanah air diprediksi akan terus mengekor kinerja pasar kawasan Asia dengan tetap memantau perkembangan berita dari Washington dan Teheran.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan