Dari Panggung ke Aksi JKK Medan Gaungkan Kesadaran Lingkungan Lewat Seni
Isu lingkungan dan pangan lokal tak hanya dapat disuarakan lewat aksi maupun orasi, tetapi juga dapat disampaikan melalui karya seni. Inilah yang menjadi pemicu utama diselenggarakannya Panggung JKK (Jangan Kasih Kendor) oleh Rumah Karya Indonesia (RKI), yang menjadi ruang kreatif untuk mendorong seniman agar menjadikan panggung sebagai medium refleksi sekaligus kritik sosial.
Direktur Jong Batak’s Arts Festival (JBAF), Audrin Manurung, menegaskan pendekatan seni memberi cara berbeda dalam menyampaikan keresahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Tema yang kita angkat lebih ke lingkungan, juga pangan lokal. Bagaimana isu-isu di sekitar kita bisa disuarakan melalui bentuk produk-produk kesenian,” katanya, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, Panggung JKK juga menjadi wadah bertemunya gagasan, kolaborasi, dan energi baru dari komunitas seni. Ia berharap ke depan panggung ini terus berkembang menjadi ekosistem yang menjaga keberlanjutan kesenian di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan.
Ia menambahkan kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Jong Batak Festival ke-13 yang akan digelar pada Oktober mendatang.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Ketua RKI, Ojax Manalu. Ia menyebut komunitasnya masih terus belajar memaknai tradisi, bukan hanya sebagai narasi atau hafalan sejarah, tetapi sebagai sesuatu yang relevan dengan kehidupan hari ini.
“Tradisi itu bukan hanya untuk diingat, tapi harus kita maknai dan kita buat untuk sekarang,” tuturnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif dalam menikmati festival tanpa merusak lingkungan. Konsep ‘Green Festival’ yang diusung menjadi ajakan sederhana dengan mengingatkan agar menjaga kebersihan sebagai bentuk apresiasi terhadap ruang dan karya.
Baca juga : SMAN 1 Sei Suka Gelar Gebyar Ko-Kurikuler, Sajikan Seni dan Drama Multibahasa
Ia mengingatkan bahwa euforia menonton sering kali meninggalkan persoalan baru berupa sampah yang berserakan di mana-mana.
“Komunitas kami sedang belajar seperti itu dan saya berharap teman-teman juga ikut belajar. Sama-sama belajar kita bagaimana menonton festival, bagaimana mengapresiasi suatu bentuk pertunjukan tanpa harus tanda kutip mencederai sekitar kita, gitu ya,” ujarnya.
Ojax juga melihat perjalanan panjang festival ini sebagai bukti bahwa ruang kecil dapat melahirkan talenta besar. Ia mencontohkan komunitas seperti Siantar Rap Foundation yang pernah tampil di awal perjalanan festival dan kini kembali dengan reputasi yang lebih kuat. Hal itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa konsistensi ruang kreatif mampu menumbuhkan generasi seniman yang berdaya saing.
“Artinya, ini adalah ruang-ruang kecil yang menumbuhkan bibit-bibit baru yang mungkin lima tahun ke depan menjadi cikal bakal mewakili Sumatera Utara ke kancah nasional dan internasional, tanpa melupakan identitas kebudayaannya,” kata Ojax.
Sementara itu, Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumut, Salya Rusdi juga turut memberikan apresiasi atas terlaksananya panggung JKK road to JBAF tersebut.
Ia menilai Panggung JKK tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membangun kesadaran yang lebih dalam tentang relasi manusia dengan alam dan akar budaya. Ia menyebut pertunjukan yang ditampilkan menjadi refleksi nilai-nilai masyarakat adat, khususnya dari kawasan Danau Toba.
Ia pun mendorong generasi muda untuk tidak hanya menikmati, tetapi juga terlibat aktif dalam proses berkesenian. Menurutnya, ruang-ruang seperti ini berpotensi melahirkan penerus maestro yang tetap berpijak pada identitas budaya.
“Semoga dengan banyaknya peserta dari kaum muda, adik-adik dan teman-teman semua, silahkan tumbuhkanlah bakat minat sehingga dapat nantinya, barangkali, mewakili daripada maestro-maestro kita dalam berkarya dan terutama menjaga warisan leluhur kita,” ucapnya.






