Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Pesta Lopat Jadi Tradisi Turun-Temurun di Malam ke-27 Ramadan di Batu Bara

Pesta Lopat Jadi Tradisi Turun-Temurun di Malam ke-27 Ramadan di Batu Bara

Di sebuah sudut Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara, tepatnya di Desa Kwala Sikasim, suasana malam ke-27 Ramadan terasa berbeda dari biasanya. Ketika sebagian besar umat Muslim khusyuk memperbanyak ibadah, warga desa ini juga merayakannya dengan cara yang unik dan sarat makna: menggelar tradisi yang dikenal dengan sebutan “pesta lopat”.

Sejak sore hari, aroma khas makanan tradisional mulai tercium dari dapur-dapur warga. Lopat atau lepat dalam sebutan umum menjadi sajian utama yang disiapkan hampir di setiap rumah.

Terbuat dari campuran tepung beras, beras ketan, gula merah, dan kelapa sangrai, adonan tersebut dibungkus daun pisang lalu direbus hingga matang. Ada pula variasi bahan seperti pisang, ubi, hingga pulut yang memperkaya cita rasanya.

Menjelang waktu berbuka puasa, para pemuda desa mulai bergerak. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah, mengumpulkan lopat yang telah dimasak oleh warga. Semua hasil olahan itu kemudian dikumpulkan di satu titik untuk disiapkan dalam sebuah perayaan sederhana namun penuh kebersamaan.

Ketika malam tiba dan salat tarawih usai dilaksanakan, suasana desa berubah menjadi lebih hidup. Warga dan pendatang mulai berdatangan. Di lokasi yang telah ditentukan, lopat-lopat tersebut dibagikan secara gratis kepada siapa saja yang hadir, tanpa terkecuali.

Tokoh masyarakat adat dan budaya Batu Baru, Sonang Hati, mengatakan tradisi ini telah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun.

Baca juga : Muhammadiyah Siumbut-Umbut Tebar Kebaikan di Ramadan, Warga Sekitar Masjid Terbantu

“Warga secara sukarela memasak lopat sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang mereka peroleh, terutama karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani dengan hasil panen yang melimpah saat Ramadan,” kata Sonang, Rabu (18/3/2026).

Dalam satu malam, puluhan kilogram lopat dibagikan. Setiap orang biasanya menerima beberapa bungkus yang telah dikemas sederhana.

“Tak hanya warga setempat, tradisi ini juga menarik perhatian masyarakat dari desa lain yang sengaja datang untuk merasakan suasana khas pesta lopat di desa ini,” kata dia.

Kemeriahan tidak berhenti pada pembagian makanan. Sepanjang jalan desa, umbul-umbul warna-warni dipasang, sementara lampu obor dari bambu menyala di depan rumah warga, menciptakan nuansa hangat dan penuh keakraban.

Bagi masyarakat Desa Kwala Sikasim, malam ke-27 Ramadan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi. Tradisi “pesta lopat” menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan kegembiraan dalam menyambut datangnya Hari Raya Idulfitri.

Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap terjaga, menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu hidup berdampingan dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan