Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Viral! Penjual Bakso Babi di Kasihan Klarifikasi dengan Spanduk “Non-Halal”

Viral! Penjual Bakso Babi di Kasihan Klarifikasi dengan Spanduk “Non-Halal”

Seorang pedagang bakso babi di RT 4 Padukuhan Empat Cungkuk, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan, belakangan viral di media sosial. Menariknya, pedagang tersebut ternyata beragama Islam, menurut pengakuan Ketua RT setempat, Bambang Handoko, saat ditemui Senin (27/10/2025).

Dibaca Juga : Resmi! Begini Cara Pakai Dua Akun WhatsApp di Satu HP Tanpa Aplikasi Tambahan

“Penjualnya muslim. Tapi ya, muslimnya sekadar muslim-musliman lah. Dia jualan sama iparnya,” ujar Bambang.

Tertutup dan Jarang Berinteraksi

Bambang menambahkan, pedagang bernama Saido dikenal sebagai sosok tertutup dan jarang bersosialisasi dengan warga sekitar.

Meski menyapa ketika bertemu di jalan, Saido jarang ikut kegiatan lingkungan atau berkunjung ke rumah warga.

“Nggak pernah srawung. Kalau sudah habis jualan, ya langsung pulang. Jam dua sore jualan lagi. Jadi di sini cuma jualan saja,” jelas Bambang.

Saido merupakan warga asli Padukuhan Cobongan, yang jaraknya sekitar 300 meter dari warungnya.

Diminta Pasang Label Non-Halal, Tapi Dihapus

Bambang mengungkapkan, Saido sempat diberi imbauan untuk memasang label non-halal pada warung baksonya agar pembeli tidak keliru.

Pedagang itu sempat menempel tulisan kecil bertuliskan “babi”, namun kemudian menghapusnya.

“Pernah dipasang, tapi dihapus lagi,” kata Bambang.

Melihat ketidakkonsistenan ini, pihak Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ngestiharjo turun tangan dan memasang spanduk bertuliskan “Non-Halal” di lokasi warung.

“Kami sudah peringatkan berulang kali. DMI juga akhirnya ambil inisiatif karena khawatir ada pembeli yang tidak tahu,” ujar Bambang.

Warga Sudah Mengetahui, Tapi Masih Ada yang Salah Paham

Ketua RT menegaskan, masyarakat sekitar sudah mengetahui bahwa bakso yang dijual mengandung daging babi. Namun, masih ada pembeli dari luar daerah yang belum mengetahui hal ini. “Kalau yang beli kadang-kadang ya memang nggak tahu,” tambahnya.

Dibaca Juga :Akademisi Siantar Desak Kopdes Merah Putih Buka Data Pengelolaan, Transparansi Jadi Tuntutan Utama

Meski menjadi perbincangan di media sosial, warga setempat tidak mempermasalahkan keberadaan warung selama informasi terkait bahan makanan disampaikan secara jelas dan transparan.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan