Uruguay Kian Dekat dengan China, Ambil Langkah Strategis di Tengah Tekanan Amerika Serikat
Presiden Yamandu Orsi dari Uruguay baru-baru ini melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing, menandai langkah diplomatik penting yang menarik perhatian dunia. Kunjungan ini bukan sekadar simbol persahabatan bilateral, melainkan langkah strategis di tengah tekanan politik dan ekonomi dari Amerika Serikat, yang menunjukkan perubahan signifikan dalam peta geopolitik Amerika Latin dan Asia.
Dibaca Juga : Anggota Satpol PP Kebumen Tewas Dibacok Saat Evakuasi ODGJ di Kecamatan Alian
Kerja Sama Strategis dan Kesepakatan Penting
Dalam pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping, kedua pemimpin menegaskan komitmen memperkuat hubungan strategis yang komprehensif. Kunjungan ini menghasilkan 12 kesepakatan kerja sama yang mencakup:
– Ilmu pengetahuan dan teknologi
– Perlindungan lingkungan
– Ekspor dan impor komoditas, termasuk daging sapi dan kedelai
– Perlindungan kekayaan intelektual
Kesepakatan ini menegaskan bahwa hubungan Uruguay–China kini lebih dari sekadar perdagangan komoditas; mereka sedang membangun fondasi pertumbuhan bersama dan diversifikasi ekonomi.
China: Pasar Utama dan Investasi Strategis
China telah lama menjadi mitra dagang utama Uruguay. Pada 2025, sekitar 26% ekspor Uruguay diserap oleh China, termasuk pulp kayu, kedelai, dan daging sapi. Selain itu, China juga meningkatkan investasi di sektor strategis Uruguay, mulai dari pengolahan daging hingga agribisnis, menjadikan hubungan ini semakin erat dan berkelanjutan.
Pesan Global: Dunia Multipolar dan Diplomasi Amerika Latin
Dalam sambutannya, Xi menekankan pentingnya dunia yang “equal dan multipolar,” menegaskan posisi China sebagai pemimpin global yang mendorong globalisasi inklusif. Kunjungan Orsi menandai bahwa negara-negara Amerika Latin kini lebih berani menjalin kerja sama dengan China meski ada tekanan dari AS, mencerminkan strategi diplomasi yang cermat untuk menjaga kedaulatan dan peluang ekonomi.
Menavigasi Tekanan AS: Realitas Diplomasi Uruguay
Hubungan dekat dengan China bukan berarti Uruguay menutup pintu pada Amerika Serikat. Justru, negara kecil ini berusaha menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan politiknya agar tetap relevan di kancah global. Pendekatan ini menunjukkan fleksibilitas diplomatik yang cerdas dalam menghadapi persaingan antara kekuatan besar.
Simbolisme Kunjungan dan Strategi Jangka Panjang
Kunjungan ini juga kaya simbolisme. Uruguay dan China telah menjalin diplomasi resmi sejak 1988, dan delegasi besar Uruguay yang membawa pejabat pemerintah, pengusaha, dan akademisi menegaskan bahwa hubungan ini adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar momen politik sesaat.
Dibaca Juga : Kasus Simpang Siur, Pencopotan Kasi Pidsus dan Kajari Deli Serdang Masih Tanda Tanya
Kesimpulan: Dengan serangkaian kesepakatan dan pesan diplomatik yang jelas, hubungan Uruguay–China kini lebih dari sekadar kerjasama bilateral. Ini mencerminkan pergeseran geopolitik global, strategi ekonomi jangka panjang, dan kemampuan negara kecil menavigasi persaingan antara kekuatan dunia. Langkah Uruguay ini bisa menjadi model bagi negara-negara lain di Amerika Latin yang ingin memanfaatkan peluang di era multipolar.






