Trump Ajak Negara Lain Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan negara-negara lain untuk mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz guna menjaga jalur pelayaran vital tersebut tetap terbuka di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Seruan itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Sabtu (14/3/2026), saat situasi keamanan di kawasan Timur Tengah memanas setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Trump mengatakan sejumlah negara yang bergantung pada jalur pelayaran tersebut diharapkan ikut mengirimkan kapal perang untuk menjaga keamanan wilayah perairan strategis itu.
“Banyak negara, terutama yang terdampak oleh upaya Iran menutup Selat Hormuz, akan mengerahkan kapal perang bersama Amerika Serikat untuk menjaga agar selat tetap terbuka dan aman,” tulis Trump seperti dikutip dari AFP.
Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati jalur tersebut. Namun, serangan dan ancaman dari Iran dalam beberapa waktu terakhir membuat aktivitas pelayaran di kawasan itu hampir terhenti.
Baca juga : HMI Medan Soroti Langkah Presiden Prabowo Gabung BoP Buatan Trump
Situasi tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sekitar 40 persen dan menimbulkan tekanan terhadap perekonomian global.
Militer Iran dilaporkan mengerahkan drone dan rudal untuk menyerang sejumlah target, termasuk Israel, fasilitas energi di kawasan Teluk, serta beberapa lokasi strategis di Timur Tengah. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Manama, ibu kota Bahrain, sementara asap hitam terlihat dari terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab.
Selain itu, sumber keamanan menyebutkan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak turut diserang menggunakan drone.
Di tengah meningkatnya konflik, Trump menyatakan Amerika Serikat akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran. Ia juga mengklaim pasukan AS telah menyerang Pulau Kharg pada Jumat (13/3/2026), yang merupakan pusat ekspor minyak Iran.
Menurut Trump, serangan tersebut menghancurkan sejumlah target militer tanpa merusak fasilitas energi. Namun, pemerintah Iran membantah klaim bahwa kemampuan militernya telah sepenuhnya hancur.
Baca juga : Trump Upayakan ‘Blacklist’ 32 Negara: WNA dari Lebih dari 30 Negara Terancam Dilarang Masuk AS
Iran juga memperingatkan akan membalas jika fasilitas minyaknya menjadi sasaran serangan. Pemerintah Teheran menyatakan perusahaan energi yang berkaitan dengan Amerika Serikat dapat menjadi target jika sektor energinya diserang.
Data dari Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sementara itu, Badan Pengungsi PBB melaporkan sekitar 3,2 juta orang mengungsi di Iran, sebagian besar meninggalkan ibu kota dan kota-kota besar untuk mencari tempat yang lebih aman.
Di sisi lain, Pentagon menyebut lebih dari 15.000 target di Iran telah diserang oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel. Militer AS juga dilaporkan mengerahkan kapal serbu amfibi USS Tripoli bersama sekitar 2.500 personel Marinir ke kawasan Timur Tengah.






