Tragedi Banjir Sumatera: 962 Warga Tewas, Ribuan Pengungsi Kini Diserang Wabah Penyakit
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) yang menyebabkan ribuan warga terdampak.
Dibaca Juga : Bank Indonesia Pematangsiantar Dorong Literasi Kritis Lewat Serial Bedah Buku Inspiratif
Tidak hanya itu, ratusan jalan dan puluhan jembatan rusak yang membuat proses pendistribusian bantuan mengalami kendala serta para pengungsi yang mulai terpapar penyakit.Pengungsi mulai terserang penyakit kulit dan ISPA
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut, Hamid Rijal Lubis mengatakan para pengungsi di beberapa kabupaten kota yang terdampak bencana mulai terpapar penyakit kulit dan Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan rinci sebanyak 6.433 kasus penyakit kulit dan 5.151 kasus ISPA.
Dikutip dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia dalam bencana banjir dan longsor Sumatra mencapai 962 jiwa hingga Selasa (9/12/2025) pada pukul 13.30 WIB.
Jumlah korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Agam, Sumatra Barat dengan rinci sebanyak 180 jiwa diikuti dengan Aceh Utara 138 jiwa, Tapanuli Tengah 110 jiwa, Tapanuli Selatan 85 jiwa.
Selanjutnya, sebanyak 57 korban meninggal dunia di Aceh Tamiang, 53 jiwa di Kota Sibolga dan 48 jiwa di Aceh Timur, 37 jiwa di Bener Meriah dan 36 jiwa di Tapanuli Utara.
Sebanyak 291 korban masih dinyatakan hilang dan 5000 korban terluka. Adapun, terdapat ratusan ribu warga yang masih mengungsi dengan jumlah terbanyak berada di Aceh yakni, 299,5 ribu jumlah korban mengungsi di Aceh Utara; 262,1 ribu pengungsi di Aceh Tamiang; dan 238,5 ribu di Aceh Timur.
Sebelumnya, ribuan korban banjir dan longsor di Sumatra Utara masih mengungsi di posko pengungsian.
“Hingga Minggu, 7 Desember 2025 pukul 13.00 WIB menunjukkan penyakit kulit dan ISPA menjadi penyakit tertinggi di wilayah terdampak,” ujar Hamid.
Hamid menilai jika tidak dilakukan intervensi cepat, penyakit ini berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB). Ia mengatakan kondisi ini dipengaruhi oleh paparan air kotor dan sanitasi lingkungan yang menurun.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang menurun, serta kepadatan dan kelembapan di lokasi pengungsian,” katanya.
Adapun, tercatat 1.065 kasus diare, 755 kasus Influenza Like Illness (ILI), 7 kasus demam berdarah dengue serta 534 kasus suspek demam tifoid. Dinkes Sumut juga menerima laporan 2 kasus campak, masing-masing dari Kabupaten Deliserdang dan Tapanuli Tengah.
Kabar jasad korban banjir dalam mobil
Tersiar kabar penemuan jasad yang disebut berada dalam mobil terbengkalai pascabencana banjir akhir November lalu. Kapolres Aceh Tamiang AKBP Muliadi membantah kabar tersebut. Menurutnya, setelah dilakukan penyisiran tidak ditemukan adanya mayat dalam mobil.
“Setelah kita sisir dan cek sepanjang jalan hingga SPBU Tanah Terban, tidak ada mayat dalam mobil,” ujar Muliadi kepada wartawan, Senin (8/12/2025).
Dibaca Juga : Operasi Imigrasi Medan Bongkar Upaya Penyelundupan Orang ke Prancis oleh WNA Sri Lanka
Muliadi mengaku turun langsung menyisir dan memeriksa sejumlah mobil yang terbengkalai akibat banjir di sepanjang jalur utama hingga SPBU Tanah Terban, Aceh Tamiang.






