Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Tari Gubang: Warisan Leluhur Melayu Pesisir Asahan dan Tanjungbalai

Tari Gubang: Warisan Leluhur Melayu Pesisir Asahan dan Tanjungbalai

Di balik gemulai gerak yang anggun dan irama musik Melayu yang menghanyutkan, Tari Gubang menyimpan kisah panjang tentang sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat pesisir di kawasan Tanjungbalai dan Asahan, Sumatera Utara. Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan cerminan perjalanan budaya Melayu yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun.

Tari Gubang lahir, tumbuh, dan diwariskan lintas generasi di wilayah Tanjungbalai dan Asahan yang dahulunya menjadi satu kesatuan daerah, kini sebagai simbol hubungan manusia dengan alam, laut, dan Sang Pencipta.

Pada tahun 2017, Tari Gubang resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, menegaskan posisinya sebagai salah satu kekayaan budaya nasional yang harus dilestarikan.

“Pada masa lampau, Tari Gubang tidak berdiri sebagai seni hiburan. Tarian ini berawal dari ritual prosesi sakral yang dipercaya masyarakat Melayu Tanjungbalai-Asahan sebagai upaya memohon perlindungan dan penyembuhan dari penyakit,” kata Samsuriati, seorang pekerja seni sekaligus pelestari Tari Gubang, Minggu (11/1/2025).

Dalam ritual tersebut, properti seperti dupa, kemenyan, tombak, mayang pinang, dan air tepung tawar dibawa oleh penari laki-laki. Air tepung tawar kemudian dipercikkan ke area tarian sebagai simbol penolak bala dan gangguan gaib sebelum prosesi dimulai.

Membicarakan Tari Gubang tak bisa dilepaskan dari sejarah Kesultanan Melayu Asahan yang berdiri sejak abad ke-16. Wilayah ini berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan perikanan.

Mayoritas masyarakat saat itu berprofesi sebagai nelayan. Mereka menyebut perahu kecil atau sampan dengan istilah “gebeng”. Seiring berjalannya waktu dan perubahan dialek Melayu, istilah “gebeng” kemudian berubah menjadi “gubang”, yang akhirnya melekat sebagai nama tarian.

“Gerakan awal Tari Gubang menggambarkan aktivitas nelayan, seperti merajut jala, persiapan melaut, hingga kegembiraan saat angin laut berhembus dan layar perahu siap dikembangkan,” tambahnya.

Tari Gubang memiliki sejumlah ragam gerak khas yang penuh simbol. Salah satunya adalah gerak sembah, yang menggambarkan penghormatan kepada tamu. Gerakan ini dilakukan dengan posisi tubuh merendah, kepala tertunduk, lalu perlahan tegak dengan kedua tangan bertemu di dada sebagai tanda salam dan penghormatan.

Ada pula ragam gerak mempersilakan tamu, yang dilakukan secara berpasangan antara penari laki-laki dan perempuan, serta ragam memeriksa tamu yang dilambangkan dengan gerakan berputar membentuk lingkaran ke kanan dan ke kiri.

Baca juga : Gebyar Budaya Deli Serdang 2025, UMKM hingga Seni Tradisi Warnai Kemeriahan di Lapangan Kata Bima

Dalam konteks ritual, gerakan tari ini menggambarkan tabib yang memastikan kesiapan tempat ritual pengobatan sebelum prosesi penyembuhan dilakukan.

Pada bagian tertentu, Tari Gubang menampilkan adegan seseorang yang digambarkan sedang sakit memasuki area tarian. Seorang tabib kemudian mengambil mayang pinang dan mengelilingi orang tersebut sambil mengibaskan mayang ke tubuhnya.

Gerakan ini melambangkan usaha mengusir penyakit dan energi buruk. Properti tombak emas yang digunakan tabib juga memiliki makna simbolik sebagai representasi mata pencaharian nelayan dan keahlian masyarakat pesisir Tanjungbalai dan Asahan.

Dalam pementasannya, Tari Gubang biasanya dibawakan oleh tujuh hingga sembilan penari, terdiri dari penari laki-laki dan perempuan. Penari perempuan mengenakan kebaya Melayu, kain songket, dan selendang, sementara penari laki-laki memakai baju Teluk Belanga, kain songket, serta kopiah.

Iringan musik Tari Gubang tergolong sederhana namun khas, menggunakan dua gendang, biola atau violin, serta bangsi (alat musik tiup tradisional). Ketukan ritmisnya dipercaya terinspirasi dari suara dayung dan hentakan di atas perahu nelayan.

Sementara itu, Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kabupaten Asahan mengharapkan masyarakat Melayu meningkatkan literasi terhadap nilai budaya dari kesenian Tari Gubang ini.

“Masyarakat juga punya tanggung jawab yang sama, jangan sampai lengah. Kalau kita lalai dan lengah, kita bisa punah. Generasi muda merupakan ujung tombak dalam melestarikan Budaya Melayu, mengintegrasikan Budaya Melayu ke dalam pendidikan formal, serta mengadakan festival dan acara kebudayaan di mana setiap acara selalu dipertunjukkan Tari Gubang ini,” ujarnya.

Karenanya, kesenian Tari Gubang di Kabupaten Asahan sering dipertunjukkan bahkan digelar festival setiap tahunnya yang diikuti oleh para pelajar dari berbagai sekolah dasar.

Hal itu, kata dia, seperti pepatah populer Melayu, “Tak hilang Melayu di bumi”, yang bermakna jati diri, budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai Melayu tidak akan pernah punah meskipun zaman berubah, asalkan dijaga dan dilestarikan.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan