Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Supermoon Perdana 2025 Siap Hiasi Langit 7 Oktober, Ini Fakta dan Dampaknya!

Supermoon Perdana 2025 Siap Hiasi Langit 7 Oktober, Ini Fakta dan Dampaknya!

Langit malam akan menampilkan pemandangan spektakuler pada Selasa (7/10/2025) saat supermoon pertama tahun ini muncul dan menerangi langit dunia. Fenomena langka ini juga menandai awal dari rangkaian tiga bulan super berturut-turut yang akan berlangsung hingga Desember 2025.

Dibaca Juga : Tragedi Ponpes Al Khoziny: Jumlah Korban Tewas Bertambah Jadi 54 Orang

Bulan purnama kali ini dikenal sebagai Harvest Moon atau Bulan Panen, dan diperkirakan menjadi bulan purnama terbesar dan paling terang sejak November 2024. Di Inggris, bulan diprediksi terbit sekitar 18.20 GMT (01.20 WIB), sementara di Indonesia, fenomena ini dapat diamati mulai malam hari hingga dini hari.

Sebagaimana dilaporkan BBC, masyarakat diimbau memperhatikan prakiraan cuaca karena awan tebal berpotensi menghalangi pandangan di sejumlah wilayah.

Mengapa Disebut Supermoon?

Orbit Bulan tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan elips, sehingga jaraknya dari Bumi berubah sepanjang tahun. Ketika Bulan purnama berada di titik terdekat dengan Bumi (perigee) — atau dalam radius 90 persen dari titik terdekatnya — fenomena ini disebut supermoon.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan Richard Nolle pada 1979. Pada posisi ini, Bulan tampak hingga 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dibandingkan purnama biasa.

Sebagian astronom mendefinisikan supermoon ketika jarak Bulan kurang dari 360.000 kilometer dari pusat Bumi. Berdasarkan kriteria tersebut, Harvest Moon Oktober 2025 hampir memenuhi syarat sebagai supermoon sempurna.

Makna di Balik Harvest Moon

Nama “Harvest Moon” berasal dari tradisi agrikultural kuno di Eropa. Bulan purnama yang muncul paling dekat dengan ekuinoks musim gugur (22 September) disebut sebagai Bulan Panen karena dahulu membantu petani bekerja hingga malam hari.

Fenomena ini juga terkenal dalam budaya pop melalui lagu legendaris “Harvest Moon” (1992) karya Neil Young, yang menggambarkan suasana romantis di bawah cahaya bulan purnama.

Uniknya, Harvest Moon kali ini merupakan yang paling lambat muncul sejak 1987, dan akan disusul dua supermoon berikutnya pada 5 November dan 4 Desember 2025.

Fenomena Ilusi Cakrawala Bulan

Banyak orang merasa Bulan tampak lebih besar saat berada di dekat cakrawala. Namun, ukuran aslinya tidak berubah — yang terjadi hanyalah ilusi optik.

Ketika Bulan berada di dekat pepohonan atau bangunan, otak menafsirkan jaraknya lebih dekat, sehingga tampak lebih besar.

Selain itu, warna jingga kemerahan di cakrawala muncul akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, yang memantulkan cahaya biru gelombang pendek dan menyisakan cahaya merah-oranye gelombang panjang.

Ramalan Cuaca: Peluang Langit Cerah

Setelah akhir pekan yang sempat diguyur hujan akibat Badai Amy, kondisi cuaca awal minggu depan diperkirakan lebih tenang dan cerah di sebagian besar wilayah Indonesia.

Tekanan udara tinggi di selatan akan menciptakan langit cerah di banyak daerah Jawa dan Sumatra bagian selatan.

Namun, awan tebal dan hujan lokal masih mungkin terjadi di wilayah utara dan timur, seperti Sulawesi dan Kalimantan.

Dampak Supermoon: BMKG Keluarkan Imbauan Waspada Rob

Menurut laporan Kantor Berita Radio Nasional (KBRN) RRI, BMKG telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan muka air laut akibat fase Perigee yang bertepatan dengan Bulan Purnama Supermoon.

Laporan Muriono, petugas Pusdalops PB BPBD Kalimantan Timur, pada Sabtu (4/10/2025), menyebutkan bahwa kondisi ini dapat meningkatkan ketinggian air laut maksimum dan memicu banjir rob di berbagai wilayah pesisir Indonesia hingga 20 Oktober 2025.

Daerah yang Berpotensi Terdampak:

Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku.

Khusus di Kalimantan Timur, rob diprediksi terjadi pada 7–11 Oktober 2025, terutama di pesisir Balikpapan dan sekitar aliran Sungai Mahakam.

BMKG menyebut, dampak supermoon dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir, terutama yang beraktivitas di sektor perikanan, pelabuhan, tambak garam, dan permukiman tepi pantai.

Imbauan dari BMKG

“Warga pesisir diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan muka air laut, terutama saat air pasang maksimum. Selalu pantau informasi resmi cuaca maritim melalui kanal BMKG agar dapat mengantisipasi potensi dampaknya,” tulis BMKG.

Selain itu, Pusdalops PB BPBD Kalimantan Timur juga mengingatkan masyarakat untuk:

– Mengamankan barang berharga dan kendaraan dari genangan.

– Menghindari aktivitas di tepi pantai saat pasang tinggi.

– Segera melapor ke pihak berwenang jika terjadi genangan yang berpotensi membahayakan.

Indah Namun Perlu Kewaspadaan

Supermoon memang fenomena alam yang indah, namun perlu disikapi dengan bijak. Tarikan gravitasi Bulan yang lebih kuat bisa memengaruhi pasang surut air laut, namun tidak berhubungan dengan gempa atau bencana besar lainnya.

BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu panik, melainkan cukup waspada dan tidak menyebarkan informasi hoaks yang menyesatkan.

Fenomena ini alami dan aman disaksikan, asalkan warga tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Langit Terang, Laut Bergejolak

Fenomena Supermoon 7 Oktober 2025 menjadi kombinasi antara keindahan dan kewaspadaan.

Bagi para pencinta langit, ini adalah momen sempurna untuk mengabadikan keindahan malam. Namun bagi masyarakat pesisir, kewaspadaan terhadap potensi rob menjadi hal penting.

Dibaca Juga : Bulog Asahan Serap 20 Ton Gabah Petani Batu Bara untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Nikmatilah keajaiban alam ini — sambil tetap menjaga keselamatan dan kewaspadaan bersama. 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan