Sekolah Lima Hari, Siswa di Medan Mulai Beradaptasi
Medan – Sekolah lima hari resmi diterapkan secara bertahap di Sumatera Utara, termasuk Medan, menyusul kebijakan provinsi untuk tahun ajaran 2025/2026 .
Para siswa di kota ini mulai beradaptasi dengan jadwal baru Senin hingga Jumat lebih padat, sedangkan Sabtu kembali menjadi hari bebas dari kegiatan belajar resmi. Penerapan ini bertujuan memperkuat struktur pembelajaran, meningkatkan kualitas interaksi guru‑siswa, dan memberi ruang bagi pengembangan minat di akhir pekan . Meskipun beberapa anggota DPRD sempat mengkritik kemungkinan lonjakan kenakalan akibat berkurangnya waktu di sekolah , banyak pihak menyambut baik karena diyakini lebih memadukan akademik dan kegiatan pengembangan diri siswa.
Program lima hari sekolah sudah dimulai sejak Senin (14/7/2025) di SMA/SMK Sumatera Utara (Sumut).
Siswa kelas XII-5 SMA Negeri 1 Medan, Kafka Athallah Fattah, mengaku awalnya cukup kebingungan dengan perubahan jam pulang yang lebih sore dari biasanya.
“Bukan hal yang mudah. Karena saya harus adaptasi lagi, misalnya dari yang setiap hari pulang selalu siang, Sabtu tetap sekolah dan ini sekarang sudah 5 hari, pulang sore,” katanya kepada , Sabtu (19/7/2025).
Baca juga : Mengedukasi Konservasi, Genetika Fakultas Pertanian UISU Ajak Pemuda Tanam 200 Bibit Pohon
Meski begitu, dalam waktu lima hari, Kafka mulai terbiasa. Meski mengikuti ekskul pramuka dan voli, ia bahkan tidak merasa lelah.
“Walau mengikuti dua ekskul dan pemadatan jam belajar sekolah, saya tetap enjoy. Karena kan juga mikirnya kalau pas ekskul pasti ketemu teman-teman. Jadi, saya nggak mikirin tentang capeknya setelah pulang,” ungkapnya.
Ia mengatakan di hari Sabtu bisa digunakan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Karena saya selama lima hari ini pasti pulang sekolah langsung istirahat, tidur. Jadi, jarang ada waktu keluar bersama keluarga. Mungkin Sabtu dan Minggu akan saya pakai keluar bersama keluarga saya,” ujar anak pertama dari dua bersaudara itu.
Sebagai siswa kelas XII yang akan mulai mengikuti les di luar sekolah, Kafka merasa waktu akhir pekan menjadi sangat penting sebagai pemulihan energi.
“Kebetulan saya juga akan mulai les dan itu pasti diantara lima hari tersebut. Jadi kalau saya pikir untuk les di hari Sabtu itu pasti bakal capek sekali, saya rasa hari libur saya itu jadinya terkuras,” tuturnya.
Dengan aktivitas saat ini, Kafka pulang ke rumah pukul 20.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Ia pun berharap agar pihak sekolah memaksimalkan pembelajaran di waktu yang sudah tersedia.
“Karena kan mungkin beberapa ada juga yang lesnya sampai malam, pasti juga lebih banyak waktu di sekolah. Jadi, saya harap lebih banyak pembelajaran di sekolah yang diterima,” ucapnya.






