Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Potret Keseharian Septiano di SLB, Remaja Disabilitas Korban Pengeroyokan Warga di Siantar

Potret Keseharian Septiano di SLB, Remaja Disabilitas Korban Pengeroyokan Warga di Siantar

Seorang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), Septiano Samuel Damanik, 21 tahun, warga Nagori Balimbingan, Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun jadi korban pengeroyokan brutal sekelompok warga di Jalan Melur, Kelurahan Simarito, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar pada Minggu (25/1/2026).

Dibaca Juga : Manfaatkan Dana CSR, Siswa SD–SMP di Siantar Nikmati Bimbingan Belajar Gratis

Septiano Samuel Damanik bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Pematangsiantar yang terletak di Jalan Tuan Rondahaim, Kelurahan Pondok Sayur, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar.

Seorang wali kelas Septiano, Dolfri Saragih menceritakan Septiano yang merupakan anak periang, ceria dan suka bersosial serta beda dari yang lain. Septiano sangat senang dengan anak kecil sangat berbeda dari teman-temannya yang lain.

“Septiano lebih menonjol dan sangat senang dengan anak kecil. Dalam hal menyukai bukan hal yang negatif, selama disini dia menempatkan dirinya itu seperti kami gurunya,”, Selasa (27/1/2026).

Dolfri mengatakan bagaimana tindakan seorang guru terhadap siswanya, seperti itu yang dilakukan Septiano. Setiap ada anak kecil atau siswa-siswa yang baru yang ada disini dia selalu ngajak berkumpul dan bermain.

“Bahkan anak-anak yang membawa bekal sampai-sampai dia menyuapi anak-anak itu satu persatu. Itu sangking sayangnya dia kepada anak-anak, diajak bermain-main. Jadi ketika ada anak-anak yang sulit berjalan dia mau untuk menggendongnya dan mengantarkannya ke kelas,” katanya.

Kondisi Septiano yang babak belur

Dolfri mengatakan dengan kejadian ini sangat disayangkan dan sangat miris mendengar beritanya.

“Kemarin sudah bertemu langsung dengan septiano dan keluarganya. Dan kami sangat miris sekali melihat kondisinya sampai babak belur sungguh sangat memprihatinkan dan sangat kejam melakukan Septiano seperti itu,” tuturnya.

Ia menambahkan seharusnya mereka mencari tau terlebih dahulu latar belakangnya. “Kita yang normal kalau langsung berkomunikasi, kita bisa tau anak ini sebenarnya gimana, dan kita bisa menilai, karena dia cara berbicaranya nampak bahwasanya disabilitas,” ucapnya.

Dofri mengatakan kebetulan kejadiannya ini di luar jam sekolah. “Jadi cerita yang kami dengar pada minggu sekitar jam 2, si Septiano mau kerumah keluarganya yang di Siantar, ketika dia lewat dari lokasi kejadian itu dia melihat dua anak kecil bermain di pinggir jalan,” ujarnya.

Jadi dia yang punya keseharian dengan anak-anak dia langsung spontan jiwa sosialnya, lanjutnya, dia menghampiri anak yang bermain, sehingga dia mencoba berkomunikasi dengan anak-anak itu.

“Kalau Septi bercerita, ia mengatakan ngapain kalian bermain di pinggir jalan tidak boleh, jangan main sini. Ketika dia sebelum sampai Jalan Melur ada penjual mie sop adalah uangnya Rp5.000 di kasih tukang jual mie sop. Dia kan baik jadi uangnya yang Rp5.000 ini diajak lah anak-anak ini untuk beli jajan tapi jangan bilang mamak mu yah nanti aku disangka menculik anak,” katanya.

Keseharian Septiano

Dolfri juga menceritakan untuk berangkat ke sekolah, kebetulan Septiano domisilinya di Balimbingan jadi setiap harinya diantar jemput sama orang tuanya atau dijemput ibunya karena dia tidak memiliki ayah lagi.

“Si Septiano ini memang sudah sering keluar sendirian, untuk naik angkot ke sekolah pun bisa dan untuk pesan gojek pun bisa sudah mandiri lah sebenarnya dia kan usianya juga sudah 21 tahun. Jadi dia udah mandiri kemana-mana udah bisalah sendiri. Dan supir angkot sudah banyak yang kenal dikarenakan Septiano selalu menegur semua orang dan semua itu bersahabat bagi Septiano,” katanya.

Septiano suka belajar dan selalu mengerjakan tugas

Dolfri mengatakan kalau dalam proses belajarnya, Septiano anaknya suka belajar jadi setiap hari itu kalau tidak ada tugas, dia akan marah.

“Kalau gak ada tugas, dia akan marah dan langsung meminta. Dan dia tidak mau pulang kalau tidak ada tugas. Makanya saya salut sama dia. Dia paling tidak suka kalau tidak dikasih tugas. Dan ia sangat aktif di sekolah bahkan dia sering sekali tampil menyanyi di sekolah dan septiano sangat senang ketika ada kegiatan di sekolah,” ujarnya.

Tanggapan Sekolah akibat pemukulan Siswanya

Dolfri menambahkan kejadian ini sangat disayangkan, kalau mereka tidak tau latar belakangnya seharusnya serahkan saja sama pihak berwajib jangan main hakim sendiri.

“Kan si Septiano dituduh mereka penculik, yang disayangkan kenapa mereka main hakim sendiri seharusnya serahkan saja sama pihak berwajib biar mereka yang menindak lanjuti,” tuturnya.

Sementara itu, Bagian Kesiswaan, Mona Ully Manullang menanggapi kejadian ini sangat perlu sekali ada peraturan tentang anak disabilitas.

“Ini yang mau kami sampaikan dengan pemerintah, jika ada undang-undang perlindungan anak disabilitas. Mereka akan dilindungi, contohnya, ketika anak kami dirumah tidak tau apa yang dilakukan, pengawasan kami disekolah ini mereka aman karena kami tidak izinkan sampai keluar dari lingkungan sekolah, tapi kita tidak tau orang tuanya saat mereka di luar tidak mungkin kita lebeli mereka SLB, tidak mungkin seperti itu,” katanya.

Dibaca Juga : Ratusan Kepala Daerah Terima UHC Awards 2026, Sumut Raih Cakupan JKN Tertinggi Nasional

Ia menambahkan jika suatu saat nanti ada kejadian yang lain lagi seperti ini ada perlindungan hukum mereka. “Itulah harapan kami, jadi bila mana mereka diluar, kita kan tidak tau mereka bicaranya asal. Jadi dengan kejadian ini menjadi efek jera bagi masyarakat. Satu lagi, anak kami ajarkan bersosial dengan masyarakat agar mereka diterima masyarakat umum tidak mungkin pulang sekolah dikurung dirumah kapan sosialisasinya ada,” ucapnya.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan