PM Jepang Shigeru Ishiba Akan Mundur Usai Kekalahan di Pemilu Majelis Tinggi
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menghadapi krisis politik serius usai kekalahan koalisinya dalam pemilu Majelis Tinggi pada Minggu, 20 Juli 2025.
Koalisi LDP-Komeito hanya meraih 47 kursi dari 125 yang diperebutkan, sehingga kehilangan mayoritas—menjadikannya minoritas di kedua kamar parlemen untuk pertama kalinya sejak 1955 .
Meskipun tekanan internal dari partai berkuasa semakin membesar untuk turun jabatan, Ishiba menegaskan akan tetap menjabat dan memimpin negosiasi perdagangan penting dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan selesai pada awal Agustus . Media lokal Jepang melaporkan bahwa Ishiba kemungkinan besar akan mengumumkan pengunduran diri pada akhir Agustus setelah kesepakatan dagang rampung, namun ia sendiri membantah semua spekulasi tersebut sebagai tidak berdasar .
Situasi ini menandai titik balik dengan meningkatnya ketidakpastian politik dan spekulasi soal lahirnya pemimpin baru LDP di tengah ketidakmampuan koalisi menguasai legislatif .
Perdana Menteri (PM) Jepang, Shigeru Ishiba dilaporkan akan mengumumkan pengunduran dirinya pada akhir bulan depan, setelah koalisi pemerintahannya kalah dalam pemilu majelis tinggi parlemen, Minggu (20/7/2025).
Kabar ini pertama kali diungkapkan oleh surat kabar Mainichi, meskipun belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Jepang, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (23/7/2025).
Koalisi yang dipimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) hanya meraih 47 kursi, gagal mencapai mayoritas yang mensyaratkan 50 kursi, sementara mitra koalisinya, Komeito, juga tak mampu menambah kekuatan signifikan.
Kekalahan ini memperlemah posisi Ishiba, terutama setelah LDP juga kehilangan suara mayoritas di majelis rendah pada Oktober tahun lalu.
Sumber Reuters menyebut Ishiba belum akan langsung mengundurkan diri karena khawatir memicu ketidakstabilan politik, terutama di tengah tekanan tarif impor dari Amerika Serikat. Namun, pengunduran dirinya diperkirakan akan resmi diumumkan pada akhir Agustus 2025.
Kepergian Ishiba yang baru menjabat kurang dari setahun ini akan memicu perebutan kekuasaan di internal LDP. Partai berkuasa tersebut kini terancam oleh munculnya partai-partai baru, terutama dari kubu kanan populis.
Baca juga : Polisi Diminta Segera Proses Pelaku Penganiayaan dan Pembuat Onar di Dairi
Dalam pemilu majelis tinggi 2025, partai sayap kanan populis Sanseito mencetak kejutan besar dengan meraih 14 kursi, padahal sebelumnya hanya memiliki satu kursi di majelis beranggotakan 248 orang.
Sanseito, yang berarti “Partai Suara Rakyat”, didirikan pada 2020 oleh Sohei Kamiya, mantan manajer supermarket dan guru bahasa Inggris. Partai ini sempat populer selama pandemi Covid-19, dengan menyuarakan teori konspirasi terkait vaksinasi dan elite global.
Menjelang pemilu, Sanseito mengangkat isu nasionalisme dengan kampanye “Japanese First”, menyoroti imigrasi, kebanjiran turis, dan kondisi ekonomi domestik.






