Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Penjualan Petasan di Medan Merosot Usai Bencana Melanda Sumut

Penjualan Petasan di Medan Merosot Usai Bencana Melanda Sumut

Penjualan petasan dan kembang api menjelang perayaan Tahun Baru 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah pedagang menilai kondisi tersebut dipicu dampak bencana banjir yang melanda sejumlah daerah, sehingga mempengaruhi distribusi barang dan daya beli masyarakat.

Inkka, kasir di RR Firework, mengatakan penurunan penjualan sudah terasa sejak beberapa hari terakhir. Menurutnya, banjir berdampak langsung pada pengiriman ke luar kota yang selama ini menjadi pasar utama.

“Ada penurunan karena kemarin bencana banjir. Biasanya pengiriman ke luar kota, dan di daerah-daerah yang banjir itu justru banyak agen kami,” ujarnya saat ditemui di tokonya yang beralamat di Jalan Cik Ditiro, Kecamatan Medan Polonia, Rabu (24/12/2025) malam.

Ia menyebut wilayah seperti Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, hingga Tapanuli Utara menjadi daerah tujuan distribusi terjauh. Namun, kondisi banjir membuat aktivitas pengiriman tidak berjalan maksimal.

Inkka menambahkan, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, situasi saat ini belum menunjukkan lonjakan pembeli. Padahal, pada tahun sebelumnya suasana sudah mulai ramai menjelang Natal.

Baca juga : DPRD Sumut Dorong Menkeu Purbaya Pulihkan TKD untuk Penanganan Bencana

“Tahun lalu di tanggal segini sudah ramai. Sekarang masih belum. Karena ini kan malam Natal. Paling ramai nanti mulai tanggal 29 sampai 1 (Januari),” katanya.

Untuk jenis produk, Inkka menjelaskan kembang api berukuran besar seperti roman candle berdiameter 1,9 inci masih menjadi favorit pembeli setiap musim tahun baru. Selain itu, terompet dengan berbagai motif juga tetap tersedia, meski belum menunjukkan peningkatan penjualan signifikan.

Sementara itu, Lisa, 37 tahun, pedagang petasan musiman yang biasa berjualan di Jalan KH Zainul Arifin, Kecamatan Medan Polonia saat Tahun Baru dan Lebaran, juga mengakui penurunan omzet tahun ini. Ia mengatakan, biasanya menjelang akhir Desember penjualan sudah mulai meningkat.

“Belakangan ini memang berkurang. Biasanya kalau sudah tanggal segini sudah lumayan, tapi sekarang memang kurang,” ujarnya.

Menurut Lisa, kondisi tersebut lebih dipengaruhi situasi bencana dibandingkan faktor lain. Ia menilai banjir membuat akses distribusi terganggu dan masyarakat memilih menahan euforia.

Baca juga : Musisi Tapanuli Bersatu Gelar Konser Kemanusiaan, Galang Donasi untuk Korban Bencana Tapteng

“Kalau menurut saya karena bencana juga. Lagi ada bencana, jadi aksesnya juga jadi sulit,” tuturnya.

Lisa menjelaskan, petasan yang paling diminati pembeli adalah kembang api kecil untuk anak-anak. Sementara petasan berukuran besar biasanya baru dicari saat mendekati malam pergantian tahun.

Adanya imbauan untuk tidak memasang kembang api saat tahun baru tak menjadi masalah bagi Lisa. Meski berharap penjualan bisa meningkat di sisa waktu menjelang pergantian tahun, ia mengaku selalu memberikan edukasi pentingnya penggunaan petasan secara aman kepada para pembeli.

Ia selalu mengingatkan pembeli agar menggunakan produk sesuai peruntukan. “Kalau untuk anak-anak ya yang khusus anak-anak. Kalau berbahaya, kami bilang bahaya,” ucapnya.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan