Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Pengangguran Sumut Turun, Tapi Lulusan Sarjana Sulit Cari Kerja

Pengangguran Sumut Turun, Tapi Lulusan Sarjana Sulit Cari Kerja

Jumlah pengangguran di Sumatera Utara (Sumut) mengalami penurunan, namun tantangan tetap ada bagi lulusan perguruan tinggi dalam mencari pekerjaan.

Penurunan Angka Pengangguran

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, pada Februari 2024, jumlah pengangguran di Sumut mencapai 408 ribu orang, menurun dari 413 ribu orang pada Februari 2023. Penurunan ini seiring dengan pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19 dan berbagai kebijakan pemerintah daerah, seperti program magang dan pengembangan UMKM .

Tantangan bagi Lulusan Perguruan Tinggi

Meskipun angka pengangguran menurun secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di kalangan lulusan universitas tetap tinggi. Pada Februari 2024, TPT untuk lulusan universitas mencapai 8,02%, tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya .

Beberapa faktor yang menyebabkan kesulitan lulusan sarjana dalam mencari pekerjaan antara lain:

  • Keterampilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri: Banyak lulusan menghadapi kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki dengan yang dibutuhkan oleh pasar kerja .
  • Kurangnya pengalaman kerja: Banyak perusahaan mencari kandidat dengan pengalaman, sementara lulusan baru seringkali belum memiliki pengalaman kerja yang memadai.
  • Terbatasnya informasi lowongan kerja: Akses informasi tentang lowongan kerja yang terbatas, terutama di luar Pulau Jawa, menjadi hambatan bagi pencari kerja di Sumut .

Upaya Mengatasi Tantangan

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri guna menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, program magang dan pelatihan keterampilan praktis perlu diperkuat untuk meningkatkan kesiapan kerja lulusan .

Inisiatif seperti kampanye #NextMillionJobs oleh Jobstreet by SEEK juga diharapkan dapat memperluas akses informasi lowongan kerja dan mengurangi ketimpangan antara daerah dalam hal kesempatan kerja.

Baca juga : Kapolrestabes Medan Bentuk Tim Anti Premanisme, 320 Personel Gabungan Dilibatkan

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan lulusan perguruan tinggi di Sumut dapat lebih mudah memasuki dunia kerja dan mengurangi tingkat pengangguran di kalangan mereka.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumatera Utara (Sumut) menunjukkan tren penurunan berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat TPT sebesar 5,05 persen, atau sekitar 5 dari setiap 100 orang angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan namun aktif mencari atau menunggu pekerjaan.

Angka ini turun tipis 0,05 persen dibandingkan Februari 2024. Penurunan terutama terjadi pada kelompok laki-laki yang TPT-nya menyusut sebesar 0,66 persen menjadi 4,86 persen.

Sebaliknya, TPT perempuan justru meningkat 0,84 persen menjadi 5,32 persen, menandakan masih ada ketimpangan gender dalam akses terhadap lapangan kerja.

Statistisi Ahli Utama BPS Sumut, Misfarudin, menyampaikan bahwa TPT mencerminkan tenaga kerja yang belum terserap pasar kerja dan menjadi indikator penting dalam menilai pemanfaatan angkatan kerja.

“Pengangguran adalah penduduk usia kerja, minimal 17 tahun, yang sedang mencari kerja, mempersiapkan usaha, atau telah diterima bekerja namun belum mulai bekerja,” katanya Minggu (11/5/2025).

Jika dilihat berdasarkan wilayah, TPT di daerah perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan. TPT perkotaan berada di angka 6,29 persen, sementara di perdesaan hanya 3,265 persen.

Kedua wilayah mengalami penurunan dibanding Februari 2024, masing-masing sebesar 0,22 persen dan 0,06 persen.

Namun yang menjadi sorotan, tingkat pengangguran tertinggi justru terjadi pada kelompok lulusan pendidikan tinggi, yaitu Diploma IV, S1, S2, dan S3, dengan angka mencapai 8,10 persen.

Sementara itu, kelompok dengan tingkat pengangguran terendah justru berasal dari lulusan SD ke bawah, hanya sebesar 1,94 persen.

“Polanya hampir sama dengan Februari 2024, di mana lulusan tinggi masih sulit diserap pasar kerja,” ujar Misfarudin.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan