Analisasumut.com
Beranda AKTUAL Pemerintah Tidak Mampu Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok

Pemerintah Tidak Mampu Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok

Sejumlah anggota DPR RI dari berbagai fraksi mengecam ketidakmampuan pemerintah dalam menstabilkan harga kebutuhan pokok, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Amin Ak (PKS) menilai pemerintah belum melakukan reformasi tata niaga pangan yang efektif, sehingga harga beras, gula, daging, dan cabai tetap tinggi meski telah terjadi impor besar-besaran. Ia menyebut keberadaan mafia pangan sebagai kendala utama tata niaga pangan yang tak tersentuh reformasi serius .

Mufti Aimah Nurul Anam (Komisi VI DPR) menyindir bahwa lonjakan harga sembako seperti minyak goreng dan bawang putih setiap Ramadan sudah menjadi tradisi yang tak pernah berhasil dicegah. Menurutnya, ini menunjukkan kegagalan pemerintah menegakkan Harga Eceran Tertinggi (HET) di lapangan .

Ketua DPR, Puan Maharani, juga mendesak pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga-harga pokok menjelang Lebaran 2025. Ia menyebut bahwa langkah kebijakan harus cepat dan efektif agar masyarakat tidak semakin terbebani .

Imas Aan Ubudiah (PKB) menambahkan bahwa operasi pasar selama Ramadan dianggap tidak efektif dan bukan solusi utama. Pemerintah perlu menyelidiki akar permasalahan kenaikan harga—apakah akibat pasokan, distribusi, atau praktik spekulasi .

Baca juga : Billboard Ilegal Berdiri Di Sejumlah Lokasi, Dibekingi Pejabat ?

Sebulan terakhir harga harga kebutuhan pokok di pasar melambung tinggi. Beras  yang mengawali kenaikan harga belum juga kembali stabil, ditambah keluhan ibu-ibu karena kualitas beras yang buruk.

“Padahal saya beli yang harga 17 sekilo – tapi banyak yang patah-patah seperti antah.. sehingga rasanya jadi tak biasa..belum lagi telur ayam ras yang ukuran paling kecil aja 1.500,” kata Kak Mar di pasar Kemiri Simpang Limun.

Dua pekan terakhir semakin parah, harga ikan laut melambung hampir 90 persen Ikan Dencis, Gembung, Dungun, Tongkol dan sejenisnya tak ada lagi di bawah harga dua puluh ribu sekilo. Tampak banyak ikan yang sudah rusak dan tak lagi segar karena tiada pembeli.

Pengamat Sosial Ramdeswati Pohan, Selasa (5/8) menyarankan pemerintah untuk fokus memperhatikan rakyat terutama pemerintah daerah yang lebih dekat dengan masyarakatnya hingga tentu lebih tahu keluhan-keluhan dan apa yang menjadi penyebabnya. Jangan asyik mengurus hal-hal yang tak menyentuh hal mendasar.

“Turunlah ke pasar sesekali, lihat keluhan masyarakat..karena sebenarnya produksi melimpah dan sejauh ini tak ada yang langka dari bahan-bahan pokok tersebut, namun kenapa pula harganya bisa melambung dalam durasi yang panjang,”pungkasnya. 

Komentar
Bagikan:

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan