Analisasumut.com
Beranda AKTUAL Menelisik Pengadaan Air Bersih di Medan (2-Habis): Tersendat karena Banyak Masalah

Menelisik Pengadaan Air Bersih di Medan (2-Habis): Tersendat karena Banyak Masalah

Krisis air bersih di Kota Medan dinilai sebagai hasil dari berbagai persoalan teknis, operasional, dan tata kelola PDAM yang belum optimal. Hal ini diungkapkan oleh pengamat BUMD Air Minum, Tias Alvin Papatria.

Menurut Alvin, jaringan distribusi air di Medan sudah sangat tua dan rentan bocor, mirip dengan kondisi di kota-kota besar lainnya. Ia menyebut tingkat kebocoran atau non-revenue water (NRW) di Medan diperkirakan mencapai lebih dari 35%, melampaui rata-rata nasional 33%. Kebocoran ini membebani produksi, karena air yang diproses dengan biaya tinggi justru hilang sebelum sampai ke pelanggan.

Dari sisi operasional, musim hujan juga memperburuk kualitas air baku. Ketersediaan reservoir air yang cukup dan merata dinilai krusial agar distribusi tetap stabil. Alvin juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi, termasuk kualitas air sesuai Permenkes No. 492/2010.

Namun, ia menyebut bahwa solusi teknis tidak cukup tanpa tata kelola perusahaan yang baik. “PDAM harus dikelola modern, transparan, dan efisien,” ujarnya. Ia mendorong PDAM menjalin kemitraan dengan sektor swasta dan pusat, serta meningkatkan pelayanan agar tingkat kepuasan pelanggan naik.

Baca juga : Krisis Air Bersih Setahun, Warga Suka Meriah Sampaikan Keluhan ke Wakil Bupati

Pengamat lingkungan Sumut, Jaya Arjuna, turut menyampaikan bahwa pengelolaan yang lemah menyebabkan keluhan warga terus terjadi. Ia meminta PDAM Tirtanadi segera melakukan perbaikan teknis dan manajerial.

Sementara itu, Gubernur Sumut Bobby Nasution menyatakan komitmennya membenahi PDAM Tirtanadi. Dalam berbagai kesempatan, termasuk debat publik dan kunjungan ke Samosir, ia menegaskan akan mengevaluasi kinerja PDAM demi kualitas layanan air yang lebih baik.

Ketua Komisi C DPRD Sumut, Rony Reynaldo Situmorang, menyebut Tirtanadi belum maksimal melayani warga akibat keterbatasan anggaran dan sarana pendukung seperti tangki air. Namun, ia mengapresiasi peningkatan profesionalisme dalam kepemimpinan yang baru.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan