Krisis Air Bersih Parapat Kian Mendesak, Dewas PDAM Tirta Lihou Desak Langkah Nyata
Krisis air bersih yang melanda Parapat mulai menemui titik terang. Dewan Pengawas PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun, Jamerson Saragih, membeberkan hasil forum group discussion (FGD) bersama Forkopimcam Girsang Sipangan Bolon, PDAM, dan masyarakat Parapat.
Dibaca Juga : Tragedi di Pantai Labu: Dua Siswa SD Tenggelam di Rawa-Rawa, Satu Nyawa Melayang
Jamerson mengatakan dari hasil evaluasi menyeluruh, persoalan utama terletak pada keterbatasan pasokan air baku.
Saat ini, tiga sumber mata air yang dimiliki PDAM Unit Parapat belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh pelanggan, terutama pada jam-jam puncak pemakaian.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius. Karena itu, PDAM akan mengambil langkah ke depan berupa pemasangan sumur bor, serta pembuatan sumber mata air baru untuk menambah debit air,” ujarnya, Selasa (13/1/2025).
Selain keterbatasan sumber air, gangguan distribusi juga diperparah oleh terputusnya pipa transmisi berukuran besar. Akibat kerusakan tersebut, sebagian pelanggan tidak menerima pasokan air selama lebih dari satu minggu.
Meski perbaikan telah dilakukan, Jamerson mengakui distribusi air ke rumah pelanggan membutuhkan waktu hingga kembali normal. “Perbaikannya tidak bisa instan. Setelah pipa tersambung, butuh proses hingga air kembali stabil dan sampai ke pelanggan,” katanya.
Masalah lain yang turut disoroti adalah tingginya tunggakan pelanggan PDAM, khususnya di Unit Parapat. Jamerson bilang, tunggakan tersebut berdampak langsung pada kemampuan PDAM dalam melakukan pemeliharaan jaringan dan peningkatan kualitas layanan.
Dibaca Juga : Dipindah ke Pasar Bakaran Batu, Pedagang Delimas Keluhkan Omzet Turun Drastis
Sebagai tindak lanjut, Dewan Pengawas mendorong optimalisasi pelayanan PDAM Tirta Lihou dengan semangat baru. Jamerson menegaskan komitmen pengawasan akan terus diperkuat agar masyarakat Parapat memperoleh air bersih yang cukup dan berkualitas.






