IMASA Berikan Dukungan Psikologis untuk Anak Korban Banjir Aceh Utara
Kepedulian terhadap korban bencana kembali ditunjukkan Ikatan Mahasiswa Asahan (IMASA). Berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Asahan, organisasi mahasiswa tersebut turun langsung ke wilayah terdampak banjir di Kabupaten Aceh Utara, dengan fokus membantu pemulihan psikologis anak-anak korban bencana.
Aksi kemanusiaan ini menyasar sejumlah titik terdampak parah, khususnya di Kecamatan Sawang dan Kecamatan Langkahan. Selain menyalurkan bantuan kebutuhan dasar, IMASA juga menggelar kegiatan trauma healing untuk anak-anak yang mengalami tekanan psikologis akibat banjir berkepanjangan sejak November lalu.
Ketua Umum IMASA, Radityo, dalam keterangannya kepada wartawan, Sabtu (24/1/2026), mengatakan kehadiran mereka di lokasi bencana bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan dukungan moral bagi masyarakat yang masih bertahan di tengah keterbatasan.
“Anak-anak adalah kelompok paling rentan saat bencana terjadi. Mereka tidak hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga mengalami trauma mendalam. Karena itu, kami fokus membantu memulihkan kondisi mental mereka melalui kegiatan edukatif dan pendampingan,” ujarnya.
Radityo menambahkan, banjir yang melanda Aceh Utara bukan hanya persoalan alam, melainkan juga akumulasi dari masalah tata kelola lingkungan yang belum tertangani secara serius. Ia menilai negara sering kali baru hadir setelah bencana terjadi, tanpa upaya pencegahan yang maksimal.
Baca juga : Gelombang Solidaritas dari Medan, Relawan Terus Berdatangan Bantu Korban Banjir Aceh Tamiang
“Bencana ini menunjukkan lemahnya pengelolaan lingkungan dan perencanaan wilayah. Selama akar masalahnya tidak diselesaikan, rakyat Aceh akan terus berada dalam siklus penderitaan yang sama,” tegas Radityo.
Sementara itu, salah satu relawan IMASA asal Asahan, Fadel, menyoroti masih terbatasnya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak banjir. Menurutnya, di sejumlah lokasi, akses air bersih, bahan pangan, listrik, hingga jaringan komunikasi masih menjadi persoalan serius.
“Kami melihat langsung kondisi di lapangan. Banyak warga yang masih kesulitan mendapatkan air bersih dan makanan layak. Situasi ini diperparah dengan respons yang lambat dan bantuan yang belum merata,” ungkapnya.
Fadel menilai pemerintah pusat seharusnya tampil sebagai garda terdepan dalam penanganan bencana, bukan membebankan sepenuhnya kepada pemerintah daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya.
“Ketika negara terlambat hadir, penderitaan masyarakat hanya menjadi angka statistik. Ini berbahaya karena bisa menggerus kepercayaan publik terhadap komitmen negara dalam melindungi warganya,” tambahnya.
IMASA berharap kegiatan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian sosial adalah fondasi penting dalam menghadapi krisis kemanusiaan. Di tengah keterbatasan, kehadiran relawan dan sentuhan kemanusiaan diyakini mampu menjadi penguat bagi masyarakat Aceh Utara untuk bangkit.






