IHSG Diproyeksi Masih Fluktuatif, Investor Diminta Cermati Arah Kebijakan Otoritas
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (2/2/2026). Sentimen utama pasar diperkirakan berasal dari faktor domestik, khususnya arah implementasi kebijakan otoritas pasar modal.
Dibaca Juga : Teken Perjanjian Kinerja 2026, Wali Kota Wesly Silalahi Tekankan Akuntabilitas dan Evaluasi Berkala
Hendra mengatakan pelaku pasar saat ini mencermati delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia yang telah dicanangkan oleh otoritas. Dalam jangka sangat pendek, IHSG berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidatif, seiring investor menunggu kejelasan kebijakan serta respons investor global terhadap isu domestik dan eksternal.
“Dalam sepekan ke depan, IHSG diperkirakan bergerak dengan volatilitas tinggi di rentang 8.171 hingga 8.480,” ujar Hendra di Jakarta, dilansir dari Antara.
Ia menilai pergerakan IHSG hingga sepanjang Februari 2026 masih akan dipengaruhi oleh proses pemulihan kepercayaan pasar di tengah dinamika kebijakan dan volatilitas yang belum sepenuhnya mereda.Setelah mengalami koreksi tajam, pasar saham Indonesia kini memasuki fase krusial, di mana faktor psikologis investor berperan sama pentingnya dengan fundamental ekonomi.
Menurut Hendra, tekanan pasar masih dapat muncul akibat sikap kehati-hatian investor pascagejolak. Namun, peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah terkoreksi cukup dalam.
Selama tidak muncul sentimen negatif baru yang bersifat ekstrem, pelaku pasar dinilai akan berupaya membangun level keseimbangan baru. Kondisi tersebut mencerminkan pasar yang belum sepenuhnya pulih, namun juga tidak lagi berada dalam fase panic selling.
Ia menambahkan, dinamika yang muncul di akhir pekan, mulai dari isu otoritas pasar modal, kondisi di Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pergerakan harga emas global sebagai aset aman, turut meningkatkan volatilitas jangka pendek. Ketidakpastian sentimen global juga masih membayangi pergerakan pasar.
Meski demikian, potensi terjadinya trading halt kembali dinilai relatif terbatas selama stabilitas sistem keuangan terjaga dan komunikasi kebijakan dari otoritas berlangsung jelas dan konsisten.
Dalam kondisi tersebut, Hendra menyarankan investor menerapkan strategi defensif dan selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat, likuiditas tinggi, serta berkontribusi besar terhadap indeks.
Investor jangka pendek diminta disiplin mengelola risiko, sementara investor jangka menengah dan panjang dapat mulai melakukan akumulasi bertahap pada saham berkualitas dengan valuasi yang lebih rasional.
Dibaca Juga : OJK Beberkan 8 Rencana Aksi, Reformasi Pasar Modal Dipercepat
Berdasarkan data penutupan perdagangan BEI pada Jumat (30/1/2026), IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke level 8.329,61. Indeks LQ45 naik 20,52 poin atau 2,52 persen ke posisi 833,53. Nilai transaksi tercatat Rp41,33 triliun dengan volume perdagangan 57,76 miliar saham dan frekuensi 3,39 juta kali transaksi. Sebanyak 551 saham menguat, 194 melemah, dan 65 stagnan.






