Rumah Kayu Nyaris Roboh, Ibu Sulasno Yusnidar Ditemani Lima Anak dalam Kemiskinan
Di sudut sunyi Dusun 2 Nelayan, Desa Guntung, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, berdiri sebuah rumah kayu nyaris roboh. Dinding rapuh, atap bocor, dan lantai lembab menjadi saksi perjuangan seorang ibu, Sulasno Yusnidar, yang membesarkan lima anaknya dalam pelukan kemiskinan.
Tanpa lemari, tanpa kasur empuk, keluarga ini hanya beralaskan tikar lusuh. Angin laut masuk setiap malam, membawa dingin tanpa ampun. Saat hujan turun, rumah kecil itu tak sekadar basah—ia berubah menjadi genangan kecil yang menenggelamkan kenyamanan.
“Kami tetap tinggal di sini. Kalau hujan, semuanya basah. Tapi kami sudah terbiasa. Mau ke mana lagi?” lirih Yusnidar, saat dikunjungi pengurus PPD Lima Puluh Pesisir dalam program Berbagi Berkah, Jumat (11/4/2025), dilansir dari ladangberita.id.
Baca juga : Kemiskinan di Sergai Menurun, Kini Tercatat 6,97 Persen
Ia tak menangis, tapi sorot matanya menyimpan luka panjang—luka dari janji kesejahteraan yang hanya muncul di baliho, bukan di kenyataan.
Sulasno bukan satu-satunya. Ia adalah cerminan dari ribuan warga Batu Bara yang hidup dalam ketidakpastian. Di balik seremonial dan pidato penuh optimisme, mereka tetap terpinggirkan. Yang miskin tetap miskin, yang terlupakan tetap sunyi.
“Ibu Sulasno tak meminta istana. Ia hanya ingin atap yang tak bocor dan lantai yang kering,” kata salah satu relawan. Sebuah permintaan yang seharusnya menjadi hak dasar setiap warga negara.
Kini, pertanyaan menggantung: akankah suara sunyi ini terdengar hingga ke ruang kerja para pengambil kebijakan? Karena kemanusiaan tak boleh dikalahkan oleh diam.






