Dokter: Penyakit SJS Bisa Sebabkan Kematian dan Komplikasi Serius
Seorang dokter spesialis kulit memperingatkan masyarakat mengenai bahaya penyakit Sindrom Stevens-Johnson (SJS), yang meskipun tergolong langka, dapat berakibat fatal jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. SJS merupakan reaksi alergi berat yang umumnya dipicu oleh konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antibiotik, obat antikejang, dan obat antiinflamasi non-steroid (OAINS).
“Penyakit ini bisa menimbulkan gejala serius seperti ruam luas pada kulit, lepuh, dan pengelupasan kulit, serta menyerang selaput lendir di mulut, mata, hingga organ genital,” ujar dr. Fina Anindita, SpKK, dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (25/6). Ia menjelaskan bahwa dalam kasus yang parah, SJS dapat berkembang menjadi Toxic Epidermal Necrolysis (TEN), dengan risiko kematian yang tinggi.
Selain kematian, penderita juga berisiko mengalami komplikasi jangka panjang seperti gangguan penglihatan, infeksi sekunder, hingga kerusakan organ dalam. Oleh karena itu, dokter menyarankan masyarakat untuk segera menghentikan penggunaan obat jika mengalami gejala awal seperti demam, nyeri tenggorokan, atau ruam, dan segera mencari pertolongan medis.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr Arridha Hutami Putri M.Ked (DV), Sp.DV, mengatakan Sindrom Stevens-Johnson (SJS) merupakan penyakit serius yang dapat mengancam nyawa jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
“SJS adalah penyakit yang mengancam jiwa. Jika tidak ditangani dengan baik, bisa menyebabkan kematian. Bahkan jika berhasil ditangani, masih berisiko menimbulkan komplikasi, seperti gangguan pada mata, kuku, kelamin, hingga organ dalam seperti saluran pencernaan dan paru-paru,” ujarnya saat diwawancarai Mistar, Rabu (25/6/2025).
Dokter yang berpraktik di Klinik UMSU ini menyebutkan, langkah utama dalam pengobatan SJS adalah dengan menghentikan penggunaan obat yang dicurigai sebagai pemicu reaksi. Setelah itu, pasien sebaiknya dirawat inap untuk mendapatkan pemantauan ketat dan penanganan lanjutan.
Baca juga : 156 PPPK Pemkab Pakpak Bharat Terima SK Pengangkatan, ini Pesan Bupati Franc Bernhard
“Pasien perlu terapi cairan, pemantauan elektrolit, serta pengobatan untuk menekan sistem imun atau mengurangi nyeri. Penting juga menjaga asupan nutrisi, dan jika diperlukan, konsultasi lanjutan ke spesialis mata atau spesialis lain sesuai gejala,” katanya.
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini juga menekankan pentingnya mengingat riwayat obat bagi penderita SJS. Sebab, reaksi alergi obat bisa sangat individual.
“Misalnya seseorang bisa mengalami reaksi berat terhadap amoksisilin, sedangkan orang lain tidak mengalami masalah. Jadi, jika sudah pernah kena SJS, sangat penting untuk tahu obat pemicunya,” ucapnya.
Sementara bagi yang belum pernah mengalami, gejalanya harus dikenali sedini mungkin. “Kalau merasa ada gejala mencurigakan, seperti ruam menyebar cepat, lepuh di kulit atau di area mulut dan mata, segera berobat,” pesannya.
Sebelumnya, Sindrom Stevens-Johnson menjadi sorotan publik setelah beredar kabar bahwa Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, sempat diduga mengalami penyakit ini.






