Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Desa Lubuk Ampolu Terancam Hilang, Warga Tapteng Mohon Presiden Turunkan Alat Berat

Desa Lubuk Ampolu Terancam Hilang, Warga Tapteng Mohon Presiden Turunkan Alat Berat

Warga Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) meminta pemerintah pusat menurunkan alat berat untuk memperbaiki alur sungai yang saat ini telah berpindah ke rumah penduduk.

Dibaca Juga : Barang Bukti dari 99 Perkara Pidana Dimusnahkan Kejari Batu Bara

Akibat berpindahnya jalur sungai itu, Desa Lubuk Ampolu dikhawatirkan akan terancam hilang akibat tergerus arus sungai. Derasnya aliran Sungai Lubuk Ampolu yang menghantam desa itu pada Senin (16/2/2026) lalu telah membuat puluhan warga mengalami trauma mendalam.

Walau dilaporkan tidak ada korban jiwa, namun ratusan rumah mengalami rusak parah, bahkan roboh tertimpa kayu gelondongan yang terbawa arus dari hulu sungai.

Dilaporkan, sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) kini telah mengungsi untuk berlindung dari banjir susulan di salah satu rumah ibadah, tepatnya di Gereja BNKP, Desa Kebun Pisang, sejak Selasa (17/2/2026) lalu hingga saat ini.

Daerah terisolasi semakin bertambah di Kabupaten Tapteng dengan tertutupnya akses kendaraan, karena Desa Lubuk Ampolu kini harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 4 kilometer melewati medan yang hancur dan derasnya arus Sungai Ampolu.

Kondisi ini menjadi kelanjutan dari bencana banjir bandang pertama yang melanda kawasan tersebut pada 25 November 2025 lalu, sebab berlanjut ke kejadian bencana banjir pada 16 Februari 2026 yang lebih parah.

Banjir pertama dan kedua masih menyebabkan sebagian rumah warga rusak, namun pada peristiwa banjir ketiga ini, seluruh rumah mengalami kerusakan parah dihantam terjangan kayu gelondongan yang terbawa banjir, bahkan ada yang sampai hilang terseret arus air.

Saat ini di sekitar permukiman warga telah menjadi tempat ribuan kubik tumpukan kayu gelondongan dan rumah warga telah dipenuhi lumpur.

“Sudah tiga bulan pasca banjir pertama, aliran sungai yang ada di desa ini terus berubah akibat dampak arus banjir,” ujar Khairul Tambunan, warga Dusun 1, Kamis (19/2/2026).

Kondisi saat ini, aliran sungai yang sekarang telah mengalir dari depan rumah warga, bahkan untuk menyeberangi jalan aspal bukan merupakan jalur aslinya lagi, melainkan luapan dari sungai besar.

Menurutnya, arus sungai yang membentuk jalur baru saat hujan deras kemarin membuat warga terpaksa harus bertarung nyawa menyelamatkan diri.

“Kami bersyukur bisa selamat, tapi kini sangat khawatir karena permukiman kami langsung berada di jalur sungai yang baru,” ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, jembatan yang menghubungkan Desa Lubuk Ampolu dengan Pagaran Honas dan Aek Bottar juga hancur dan hilang terseret arus banjir.

“Sekarang kita hanya bisa menyeberangi sungai dengan kayu titi seadanya yang harus ekstra hati-hati, karena khawatir roboh,” ungkap Khairul.

Warga lainnya, Helman Tampubolon mengungkapkan bahwa warga pernah meminta kepada pemerintah agar alat berat diturunkan untuk mengeruk sungai, tapi tidak pernah terealisasi.

Belakangan, setelah kejadian banjir parah baru-baru ini, memang ada satu unit alat berat yang datang, tapi bahan bakarnya tidak pernah cukup, seolah-olah penanganannya tidak sungguh-sungguh.

Helman yang mengaku telah mengungsikan keluarganya ke desa seberang berharap agar Presiden Prabowo dapat turun langsung memerintahkan untuk menurunkan alat berat ke desa mereka.

“Kami berharap Pak Presiden bisa membantu agar desa kami tidak lenyap. Tolong turunkan alat berat untuk membuat tanggul dan membersihkan aliran sungai, karena dari sini juga merupakan sumber aliran menuju kawasan Lopian,” katanya.

Kepala Desa Lubuk Ampolu, Fijeaman Telambanua yang dikunjungi Anggota DPRD Tapteng, Famoni Gulo, mengaku telah pernah melaporkan permohonan normalisasi sungai sejak kejadian pertama tiga bulan lalu.

“Hal ini untuk dapat menghindari bencana lebih parah. Namun belum terlaksana permohonan itu, banjir yang lebih besar sudah datang menerjang kembali,” katanya.

Fijeaman berharap dengan kejadian banjir yang lebih parah ini, pemerintah dapat segera menurunkan alat berat sebab kondisinya saat ini hanya satu jam saja turun hujan sudah langsung datang banjir besar.

“Mohon disediakan minimal 4 alat berat, kalau boleh lebih dari 4, saya merasa bersyukur sekali. Terus mohon difasilitasi juga minyaknya. Biarlah kami menanggung biaya operatornya,” harapnya.

Ia menegaskan, kalau tidak segera alat berat difasilitasi, maka desa itu diperkirakan ke depannya semakin hancur dan ditinggalkan penghuninya.

Sementara itu, Anggota DPRD Tapteng, Famoni Gulo, menyampaikan harapan yang sebesar-besarnya kepada Presiden Prabowo agar mendengar jeritan warga yang terdampak bencana di Tapteng.

Menurutnya, ia telah menyurati Presiden atas keluhan masyarakat yang mengusulkan agar status bencana dijadikan sebagai bencana nasional. “Tapi sampai saat ini usulan itu tidak terjadi. Maka harapan kita kepada pemerintah pusat supaya benar-benar memperhatikan masyarakat yang terdampak bencana ini,” katanya.

Famoni menuturkan, ia sudah melihat secara langsung di lapangan bahwa memang Desa Lubuk Ampolu sangat membutuhkan bantuan alat berat. Bukan hanya itu, masyarakat juga sudah kesulitan untuk mendapatkan makanan. “Mereka harus menempuh perjalanan dari sini 4 jam berjalan untuk mengambil beras dan harus memikul beban itu,” ucapnya.

Famoni menegaskan seandainya bantuan itu terlambat, maka ia yakin akan banyak warga yang meninggal di desa itu. Bisa banyak yang meninggal, bukan karena terkena bencana lagi, namun meninggal karena kelaparan.

Dibaca Juga : Jatanras Polda Sumut Bekuk Dua Pelaku Curanmor Remaja 18 Tahun

“Nah sudah sama-sama kita dengar, 1 jam saja hujan di sini sungai sudah banjir. Artinya, kalau tidak segera diselesaikan ini, berarti ini sengaja untuk membunuh masyarakat yang ada di sini,” tutupnya. 

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan