Bulog Siantar Ungkap Kendala Penyerapan Gabah Harga Petani vs Pasar Jadi Tantangan
Perum Bulog Cabang Pematangsiantar telah menyerap gabah kering panen (GKP) sebanyak 1.647 ton periode Januari hingga 20 Maret 2025. Kepala Cabang Perum Bulog Pematangsiantar, Matius Sitepu mengatakan beberapa kendala di lapangan yang dihadapi bulog.
Dibaca Juga : Hakim Tipikor Medan Tolak Eksepsi Kadis Pendidikan Langkat dalam Kasus Korupsi
“Kendala besar tidak ada, hanya teknis di lapangan seperti kendala angkutan dan lokasi penjemputan gabah di lokasi,” ujarnya kepada Mistar.id, Selasa (25/3/2025). Matius menjelaskan yang menjadi kendala di lapangan, termasuk juga cuaca yang pasti mempengaruhi proses penyerapan gabah di tingkat petani.
“Penyerapan bulog siantar sejauh ini transaksi pembelian langsung ke petani atau kelompok tani,” jelasnya. Matius menuturkan kilang padi yang bekerja sama dengan bulog hanya melakukan proses pengolahan gabah menjadi beras hasil giling yang kemudian beras tersebut disimpan di gudang bulog.
Kepala Bulog Siantar, menjelaskan bahwa harga gabah di tingkat petani seringkali lebih tinggi dibandingkan harga pasar, sehingga menyulitkan Bulog untuk melakukan pembelian sesuai harga acuan pemerintah. “Ketika harga di petani Rp6.500 per kg, sementara HPP (Harga Pembelian Pemerintah) hanya Rp5.200 per kg, kami kesulitan menyerap karena harus menyesuaikan anggaran,” ujarnya.
Dibaca Juga : Pemko Siantar Segera Lunasi Tunggakan Pajak Mobil Dinas
Selain itu, banyak petani yang lebih memilih menjual gabah ke tengkulak karena proses pembayaran yang lebih cepat, meskipun harganya lebih rendah. Hal ini semakin menyulitkan Bulog dalam memenuhi target serapan gabah untuk stok beras nasional.






