Bos Kadin Optimistis Ekonomi RI Tembus 5,5 Persen pada 2026
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada di kisaran 5,4 hingga 5,5 persen. Optimisme tersebut didorong oleh kinerja sektor perdagangan serta peningkatan investasi.
Dibaca Juga : Lapas Tanjung Gusta Medan Dukung Implementasi KUHP dan KUHAP Baru
Anindya menyebut perdagangan masih menjadi motor penting pertumbuhan. Di sisi lain, arus investasi diharapkan terus menguat seiring langkah pemerintah aktif mempromosikan Indonesia di forum internasional.
“Pertumbuhan ini datang dari banyak faktor, salah satunya perdagangan. Selain itu ada investasi. Minggu depan kami mendampingi Presiden ke World Economic Forum di Davos bersama Kementerian Investasi untuk menarik minat investor global,” ujar Anindya di Kementerian Perdagangan, Senin (12/1/2026).
Ia juga menyinggung kondisi pasar modal domestik yang tetap bergerak positif, meski perekonomian global sedang dibayangi tekanan akibat perang dagang dan konflik geopolitik di berbagai wilayah.
Menurut Anindya, di tengah situasi tersebut Indonesia masih berada dalam kelompok lima negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, disertai tingkat inflasi yang relatif terkendali.
“Bukan hanya perang dagang, konflik bersenjata juga terjadi. Namun Indonesia masih termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi secara global dan inflasinya tetap terjaga,” katanya.
Selain faktor eksternal, Anindya menilai sejumlah program pemerintah mulai memberi dampak positif terhadap ekonomi domestik. Program seperti Makan Bergizi Gratis, pembangunan rumah murah, hingga pengembangan Koperasi Desa Merah Putih dinilai berpotensi menciptakan efek pengganda bagi perekonomian pada 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Anindya juga menyampaikan hasil pertemuannya dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso. Salah satu agenda yang dibahas adalah penyelenggaraan APEC Business Advisory Council (ABAC) yang akan digelar di Jakarta pada 7–9 Februari 2026.
Pertemuan di Jakarta ini menjadi agenda pertama dari empat rangkaian pertemuan ABAC sepanjang 2026. Adapun pertemuan terakhir dijadwalkan berlangsung di Shenzhen, China, pada November 2026.
Anindya menjelaskan, APEC terdiri dari 21 ekonomi besar dunia, termasuk Amerika Serikat, China, Kanada, Rusia, serta negara-negara ASEAN dan Asia Timur. Setiap negara akan mengirimkan tiga perwakilan dunia usaha di level pimpinan.
Dibaca Juga : Pascalibur Akhir Pekan, Lalu Lintas di Bawah Tol KM 86 Tebing Tinggi Terpantau Padat
Ia menambahkan, Indonesia saat ini telah memiliki kerja sama perdagangan dengan berbagai kawasan seperti Eropa, Kanada, hingga Eurasia. Momentum pertemuan ABAC di Jakarta dinilai dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk memperluas akses pasar internasional.






