Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS BGN Cari 1.500 Peternak Telur Ayam, Pasok Kebutuhan MBG 2026

BGN Cari 1.500 Peternak Telur Ayam, Pasok Kebutuhan MBG 2026

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 memerlukan penambahan setidaknya 1.500 peternak ayam petelur baru. Langkah ini dibutuhkan untuk menjaga ketersediaan telur seiring terus bertambahnya jumlah penerima manfaat program tersebut.

Dibaca Juga : Kasus Penembakan Saat Natal di Sondi Raya Masih Misterius, Polisi Terus Lakukan Pendalaman

“Untuk telur sendiri di tahun 2026 ini, kami sudah sampaikan ke Pak Menteri PPN (Rachmat Pambudy) agar ada minimal 6 juta ayam petelur baru, ya minimal 1.500 peternak baru yang bisa menghasilkan telur agar kita bisa memberikan telur dua kali seminggu,” ujar Dadan dalam konferensi pers Capaian Satu Tahun MBG dan Operasional Perdana MBG di Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2025), dilansir dari CNN Indonesia.

Ia menjelaskan, BGN telah menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional agar tersedia minimal enam juta ekor ayam petelur tambahan.

Dengan jumlah itu, pasokan telur diharapkan mencukupi sehingga menu telur dapat disajikan kepada penerima MBG sebanyak dua kali dalam sepekan.

Menurut Dadan, meningkatnya kebutuhan pangan tidak lepas dari bertambahnya penerima manfaat MBG yang saat ini telah mencapai sekitar 55,1 juta orang.

Jumlah tersebut membuat kebutuhan rantai pasok bahan pangan harian menjadi sangat besar dan berdampak langsung pada sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.

Ia menuturkan, satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membutuhkan bahan pangan dalam volume besar setiap kali memasak. Dalam satu kali produksi, satu SPPG memerlukan sekitar 3.000 butir telur, 350 ekor ayam, 350 kilogram sayuran, serta 450 liter susu.

Selain itu, kebutuhan beras per SPPG mencapai kurang lebih lima ton per bulan. Untuk buah, kebutuhan pisang setara dengan hasil kebun seluas sekitar 1,5 hektare dalam satu tahun.

Besarnya kebutuhan tersebut, kata Dadan, turut menggerakkan perekonomian di tingkat lokal. Saat ini, sekitar 700 ribu hingga hampir 890 ribu orang tercatat bekerja langsung di dapur-dapur SPPG di berbagai daerah.

Di luar tenaga dapur, setiap SPPG juga melibatkan sedikitnya 15 pemasok bahan pangan, seperti beras, minyak goreng, telur, daging, ayam, susu, hingga bumbu dapur. Para pemasok tersebut umumnya mempekerjakan dua hingga 15 orang.

Dengan skema ini, hasil produksi petani, peternak, dan nelayan dapat terserap secara konsisten oleh SPPG, sehingga mendorong semangat peningkatan produktivitas di wilayah masing-masing.

Dari sisi anggaran, Dadan menyebut penyaluran MBG yang berjalan secara nasional sejak Januari membutuhkan dana sekitar Rp855 miliar per hari. Nilai tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp1,2 triliun per hari pada Mei 2025 seiring bertambahnya jumlah penerima.

Sekitar 70 persen dari total anggaran MBG digunakan untuk pembelian bahan pangan, dengan 95 hingga 99 persen di antaranya berasal dari produk dalam negeri. Menurut Dadan, pola ini membuat perputaran dana BGN langsung mengalir ke daerah di 38 provinsi serta 514 kabupaten dan kota, sehingga memberi dampak ekonomi yang luas.

Dibaca Juga : Pelantikan Pejabat Kabupaten Toba Masih Tertunda, Warga Desak Pemerintah Segera Bertindak

“Kalau kami informasikan satu hari kita makan sapi maka 19 ribu ekor sapi harus ada dalam satu kali masak. Itu dorongan ekonomi yang luar biasa terhadap pertanian,” kata Dadan.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan