Banjir Sumatra Lumpuhkan Peternakan, 820 Ribu Lebih Ternak Terdampak, Unggas Paling Parah
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melaporkan lebih dari 820 ribu hewan ternak terdampak bencana banjir yang melanda wilayah utara dan tengah Sumatra sejak akhir November 2025. Dari jumlah tersebut, ternak unggas menjadi yang paling banyak terdampak.
Dibaca Juga : PN Medan Jadwalkan Sidang Perdana Empat Tersangka Korupsi Citraland Pekan Depan
“Jumlah ternak mati dan hilang untuk jenis ternak sapi, kerbau, kambing, domba, dan unggas mencapai lebih dari 820 ribu ekor,” ujar Amran dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR di Jakarta, seperti dilansir dari CNNIndonesia.
Bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor tersebut terjadi di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sejumlah wilayah yang dilaporkan mengalami dampak terparah antara lain Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian per Selasa (13/1/2026), ternak sapi dan kerbau yang terdampak mencapai 26.120 ekor, dengan mayoritas berada di Aceh sebanyak 24.059 ekor. Sisanya tersebar di Sumatera Utara sebanyak 1.641 ekor dan Sumatra Barat 420 ekor.
Untuk ternak kambing dan domba, jumlah terdampak tercatat 43.156 ekor, terdiri atas 39.128 ekor di Aceh, 3.705 ekor di Sumatera Utara, dan 323 ekor di Sumatera Barat. Sementara itu, ternak babi terdampak sebanyak 5.050 ekor dan seluruhnya berada di Sumatera Utara.
Dampak terbesar terjadi pada ternak unggas dengan total 750.665 ekor terdampak banjir. Rinciannya, 545.909 ekor berada di Aceh, 116.885 ekor di Sumatera Utara, dan 87.871 ekor di Sumatera Barat.
Selain sektor peternakan, banjir juga berdampak signifikan terhadap pertanian. Amran menyebutkan, hingga 13 Januari 2026, luas sawah terdampak di ketiga provinsi mencapai 107,4 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, sawah rusak ringan tercatat 56,1 ribu hektare, rusak sedang 22,2 ribu hektare, dan rusak berat 29,1 ribu hektare.
Areal tanaman padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 44,6 ribu hektare. Sementara itu, lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam terdampak seluas 29,3 ribu hektare, serta lahan hortikultura sekitar 1.800 hektare.
Kerusakan juga terjadi pada sarana dan prasarana pertanian dan peternakan. Kementerian Pertanian mencatat 58 unit rumah potong hewan rusak, sekitar 2.300 unit alat dan mesin pertanian hilang, 74 balai penyuluhan pertanian rusak, tiga bendungan mengalami kerusakan, jaringan irigasi rusak sepanjang 152 kilometer, serta 820 unit jalan produksi pertanian terdampak.
Dibaca Juga : Pembangunan Gerai dan Gudang Kopdes Merah Putih di Sumut Capai Progres 8 Persen
Amran menegaskan, data dampak bencana di sektor pertanian tersebut masih bersifat dinamis dan terus diperbarui melalui koordinasi intensif antara Kementerian Pertanian dan dinas pertanian di wilayah terdampak.






