Banjir Kembali Terjang Tapteng, Kayu Gelondongan dan Lumpur Penuhi Permukiman Warga
Pascabencana banjir bandang kedua yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Rabu (11/2/2026), semakin menambah panjang kisah pilu dan penderitaan warga.
Dibaca Juga : Perombakan Jabatan di Toba: Empat Kepala Dinas Resmi Diganti Plt
Dilaporkan, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun sembilan kecamatan terdampak banjir parah akibat hujan deras yang mengguyur wilayah itu.
Sembilan kecamatan terdampak banjir yakni Kecamatan Tukka, Barus, Badiri, Sarudik, Sibabangun, Sitahuis, Pandan, Tapian Nauli, dan Barus Utara.
Kamis (12/2/2026), di Kecamatan Tukka, tepatnya di Kelurahan Hutanabolon, banjir deras kembali membawa ratusan kubik kayu gelondongan dan material lumpur.
Terlihat di sepanjang Sungai Aek Sigotom, Tukka, yang sebelumnya telah dinormalisasi oleh Pemerintah Kabupaten Tapteng bersama TNI, kembali dipenuhi ratusan kubik kayu gelondongan.
Selain itu, jalan yang sebelumnya telah kering dan dibersihkan kini kembali terendam air dan dipenuhi lumpur tebal, sehingga warga harus ekstra hati-hati saat melintas.
Beberapa tanggul yang dibangun di sepanjang aliran sungai di Kecamatan Tukka juga kembali jebol, mengakibatkan sungai yang telah dinormalisasi kembali mengalami pendangkalan.
Akibat jebolnya tanggul tersebut, hampir seluruh rumah warga di Kecamatan Tukka kembali terendam banjir dengan ketinggian air yang bervariasi.
Rumah-rumah yang sebelumnya telah dibersihkan dan kembali ditempati warga, kini harus kembali ditinggalkan. Warga terpaksa mengungsi karena banjir yang terjadi sejak sore hingga tengah malam itu turut membawa material lumpur tebal.
“Ketinggian air banjir yang berarus deras semalam mencapai lebih dari satu meter. Semua peralatan rumah tangga kembali berlumpur,” ujar Betty Hutapea, salah satu warga.
Ia menjelaskan, ketebalan lumpur mencapai sekitar 30 sentimeter dan memenuhi seluruh isi rumahnya. Bahkan, pintu rumah bagian depan tidak dapat dibuka karena tertutup lumpur.
Betty mengatakan, saat banjir terjadi, ia dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.
“Petugas Basarnas datang mengevakuasi kami dan membawa ke lokasi pengungsian di SMA Negeri 1 Tukka,” katanya.
Betty yang merupakan seorang guru swasta menuturkan, pada pagi harinya saat kembali ke rumah, lumpur kembali memenuhi seluruh ruangan.“Tadi terpaksa masuk lewat jendela, lalu membersihkan lumpur yang menutup pintu depan rumah,” ujarnya sambil membersihkan rumahnya.
Kondisi serupa juga dialami rumah-rumah ibadah, seperti Gereja HKBP Hutanabolon, Gereja GKPI, dan Masjid Bonalumban, yang sebelumnya telah dibersihkan pascabanjir 25 November 2025 lalu.
Ketiga rumah ibadah tersebut kini kembali dipenuhi lumpur dan kayu gelondongan, bahkan air deras masih mengalir di bagian depan bangunan.
Pendeta HKBP Hutanabolon Resort Tukka Distrik IX Sibolga–Tapteng–Nias, Pdt. Paten Sidabutar, mengatakan ada tiga bangunan di sekitar gereja yang roboh akibat banjir.
“Saat ini kondisi gereja kembali rata dengan tanah yang sebelumnya sudah dibentengi. Semua diluluhlantakkan banjir, seperti kejadian 25 November 2025 lalu,” ujarnya.
Ia mengaku pasrah dan berharap pertolongan Tuhan atas bencana yang kembali menimpa jemaatnya.
“Hanya Tuhan yang menjadi penolong. Doakan kami di Hutanabolon ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tapteng, Erianto Tambunan, menyampaikan ada empat kelurahan di Kecamatan Tukka yang paling terdampak banjir pada 11 Februari 2026, yakni Kelurahan Bonalumban, Pasar Tukka, Sipange, dan Hutanabolon.
Di Kecamatan Pandan, puluhan warga Lingkungan Pardagangan Kelurahan Lubuk Tukko meminta dievakuasi karena ketinggian air mencapai satu meter. Sementara di Kelurahan Sibuluan, tepatnya di Tugu Ikan, air masuk ke rumah warga akibat Sungai Sipansihaporas meluap.
“Di Kecamatan Pandan, tepatnya di Jalan Baru Kelurahan Pasar Baru, aliran listrik dipadamkan untuk mengantisipasi korsleting. Sementara di jembatan Jalan St. Z. Tampubolon Kelurahan Aek Tolang, banyak kayu gelondongan masih tertahan,” jelasnya.
Erianto menambahkan, banjir parah juga terjadi di Kecamatan Sarudik akibat Sungai Sarudik meluap hingga empat meter, mengakibatkan Kelurahan Pondok Batu, khususnya Gang Setia, diterjang banjir.
Selain itu, Jalan Eka Satria Sarudik Lingkungan 8 terendam banjir hampir satu meter. Di Simpang Kelurahan Pondok Batu, banjir setinggi 40 sentimeter, serta Lingkungan 4 Pasir Bidang mengalami kondisi serupa.
Di Kecamatan Badiri, tepatnya di Kelurahan Lopian, BPBD mengevakuasi warga menggunakan perahu karet karena sungai meluap hingga menutup jalur Sibolga–Padangsidimpuan.
“Satu unit jembatan darurat yang baru dibangun TNI menuju Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, turut hanyut,” ungkapnya.
Sementara di Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, aliran listrik dipadamkan karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan, mengingat wilayah tersebut merupakan daerah rawan longsor.
“Di Kecamatan Barus, tepatnya di Kelurahan Padang Masiang dan Desa Kinali, warga terpaksa mengungsi karena arus banjir yang deras. Sungai Aek Sirahar meluap dan masuk ke rumah warga,” katanya.
Erianto mengimbau masyarakat Tapteng agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan saling membantu saat bencana terjadi.
Dibaca Juga : Petani di Sidamanik Keluhkan Kelangkaan Urea Subsidi 2026, Distribusi Pupuk Dinilai Tak Merata
“Kami mengimbau warga untuk melakukan evakuasi mandiri apabila bencana datang secara tiba-tiba serta tetap saling menjaga keselamatan,” tutupnya.






