Anak Korban Pembunuhan di Pancur Batu Terus Cari Ayah, Keluarga Mengaku Diteror
Keluarga korban kasus dugaan penculikan dan pembunuhan terhadap Reza Pahlevi dan Jakob mengaku hidup dalam ketakutan akibat dugaan teror yang mereka alami.
Di tengah proses hukum yang dinilai berjalan lambat, anak-anak korban masih terus mencari keberadaan ayah mereka yang telah meninggal dunia secara tragis.
Istri almarhum Reza Pahlevi, Adiba Asma, 30 tahun, mendesak Kapolrestabes Medan agar segera menangkap dua orang yang diduga menjemput suaminya sebelum ditemukan tewas. Menurutnya, kematian suaminya tidak akan terjadi jika tidak dijemput oleh dua terduga pelaku tersebut.
“Kalau suami saya nggak dijemput, suami saya nggak meninggal. Sekarang anak saya jadi yatim. Anak saya ada empat, masih kecil-kecil,” kata Adiba menangis saat ditemui di Polrestabes Medan, Rabu (14/1/2026).
Ia mengaku sejak suaminya meninggal, dirinya menjadi tulang punggung keluarga. Kondisi tersebut diperparah dengan dugaan teror yang dialami keluarganya.
“Sekitar tiga minggu lalu, rumah kami dilempari seng sekitar jam dua malam. Kami menjerit-jerit baru berhenti. Di rumah cuma saya, anak-anak, dan mertua perempuan saya yang sakit jantung. Kami ketakutan, nggak ada laki-laki di rumah,” katanya.
Adiba juga menyebut sering merasa terintimidasi saat bertemu dengan istri salah seorang terduga pelaku, yang kebetulan satu sekolah dengan anaknya.
“Saya sering ketemu istrinya, matanya melotot-lotot sama saya. Kami jadi makin takut,” tuturnya.
Baca juga : Dugaan Pembunuhan Ibu Kandung oleh Siswi SD di Medan Bikin Warga Tak Percaya
Upaya pendekatan dari pihak yang mengaku pengacara pelaku juga ditolak oleh keluarga. Adiba menegaskan tidak akan berdamai.
“Tidak mungkin saya berdamai. Anak-anak saya kehilangan ayahnya. Saya minta yang menjemput suami saya ditangkap dan dihukum seberat-beratnya,” katanya.
Sementara itu, Rosliana, 60 tahun, ibu kandung Reza Pahlevi, mengungkapkan luka mendalam yang dirasakan cucunya, terutama anak ketiga korban.
“Anaknya masih kecil-kecil. Yang nomor tiga selalu cari ayahnya. Baju ayahnya selalu dibawanya ke mana-mana. Kalau tidur pun dibawa. Dia nanya, ‘Di mana ayahku?’ Kami bilang ayah ngaji,” tuturnya dengan suara bergetar.
Rosliana memohon kepada Presiden RI, Prabowo Subianto dan aparat penegak hukum agar para pelaku dihukum seberat-beratnya.
“Anak saya diculik dan dibunuh secara keji. Tolong hukum mereka seadil-adilnya,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Siti Beru Barus, 53 tahun, ibu kandung almarhum Jakob. Ia menilai penanganan kasus ini terkesan berlarut-larut dan tidak transparan.
“Sudah hampir dua bulan tapi seperti mengendap-endap. Kami orang susah, tidak bisa melawan. Tolonglah kami,” tuturnya.
Baca juga : Polisi Tangkap Satu dari Lima Buronan Kasus Pembunuhan Warga Nias di Karo
Siti juga mengaku mengalami tekanan psikologis akibat sikap mencurigakan dari orang-orang di sekitar rumahnya.
“Kereta (motor) sering balap-balap lewat rumah, orang-orang itu kalau lihat kami pandangannya sadis. Seperti kami punya utang padahal tidak ada,” ujarnya.
Ia menambahkan kedatangan seseorang yang mengaku sebagai pengacara pelaku juga ditolak karena tidak disertai itikad baik dari keluarga pelaku.
“Bukan keluarga pelaku yang datang. Tidak ada minta maaf. Saya bilang, tidak ada maaf, saya mau lanjut. Biar mereka rasakan sakit seperti yang kami rasakan,” ucapnya.
Sebelumnya, dua orang pria tewas dihakimi sekelompok warga di Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu (15/11/2025).
Kedua pria itu diketahui bernama Jakob, 17 tahun warga Desa Namo Bintang, Dusun I, Pancur Batu dan Reza Pahlevi, 30 tahun warga Desa Namo Bintang Dusun II Sumberingin.
Menurut abang kandung Jakob, Krismon, tewasnya adik dan tetangganya Reza diduga dianiaya oleh lebih dari sepuluh orang. Para pelaku berdalih jika keduanya terlibat dalam aksi pencurian yang dialami orang tua salah satu pelaku.






