Airlangga IHSG Terkoreksi Akibat FOMO Investor, Kepercayaan Asing Masih Terjaga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan hingga ke bawah level 8.000 pada perdagangan Senin (2/2/2026). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai tekanan pasar saham tidak sepenuhnya mencerminkan hilangnya kepercayaan investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
Dibaca Juga : Prabowo Janjikan Kapal Tangkap 5–30 GT untuk Desa Nelayan, Dorong Ekonomi Pesisir
“Kita lihat terjadi net inflow asing. Net inflow asing berarti kepercayaan asing terhadap perbaikan itu ada,” ujar Airlangga di Sentul International Convention Center, Bogor.
Menurut Airlangga, pelemahan IHSG lebih dipengaruhi aksi jual pada saham-saham tertentu yang dianggap berpotensi terdampak kebijakan pasar modal, terutama terkait likuiditas dan porsi saham publik (free float). Fenomena ini dikenal sebagai fear of missing out (FOMO), di mana investor bereaksi cepat terhadap isu regulasi.
“Investor melepas saham yang kami sebut saham olahan karena khawatir terkena regulasi yang mewajibkan free float naik menjadi 15 persen,” jelasnya.
Meski begitu, Airlangga menekankan tekanan tidak merata. Saham-saham dengan fundamental kuat tetap menunjukkan pergerakan positif di tengah koreksi pasar.
IHSG sempat anjlok lebih dari 5 persen ke level 7.906 pada pukul 09.18 WIB sebelum ditutup di 7.922, turun 406,9 poin atau minus 4,88 persen. Pelemahan ini terjadi setelah pekan lalu pasar modal Indonesia diguncang kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara perlakuan indeks terhadap saham Indonesia.
Kebijakan MSCI mencakup pembekuan kenaikan bobot saham, penghentian penambahan emiten baru, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks. Dampaknya, IHSG sempat anjlok hingga 8 persen pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1), memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Kondisi ini juga diikuti pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dan sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.
OJK memastikan BEI akan menerbitkan aturan baru terkait peningkatan free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen bagi seluruh emiten, baik baru maupun yang telah tercatat. Aturan ini juga mencakup mekanisme exit policy bagi perusahaan yang tidak mampu memenuhi ketentuan dalam jangka waktu tertentu.
Dibaca Juga : Iran Panggil Duta Besar Uni Eropa, Protes Keras IRGC Dicap Organisasi Teroris
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah optimistis dapat memulihkan kepercayaan investor sekaligus menstabilkan IHSG dalam beberapa minggu mendatang.






