Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Siswa di Medan Maimun Nekat Seberangi Pipa PDAM, Imbas Jembatan Rusak

Siswa di Medan Maimun Nekat Seberangi Pipa PDAM, Imbas Jembatan Rusak

Aksi anak-anak sekolah yang nekat melintasi pipa PDAM di atas aliran sungai di kawasan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, viral di media sosial. Kondisi ini terjadi akibat jembatan penghubung antarwilayah yang roboh sejak 2024 dan hingga kini belum diperbaiki.

Sejumlah warga mengaku khawatir dengan keselamatan anak-anak yang setiap hari melintasi jalur berbahaya tersebut. Dina (62), warga setempat yang telah tinggal di lokasi sejak 2007, mengatakan akses jembatan itu sangat vital bagi warga.

“Kalau pagi, ramai anak sekolah menyeberang ke sana,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (16/4/2026).

Namun, tidak adanya jembatan membuat mereka tidak punya pilihan lain selain melewati pipa PDAM untuk menuju sekolah di seberang, salah satunya SMP 34 di Kelurahan Kampung Baru. Ia berharap pemerintah dapat membangun jembatan darurat.

“Kalau bisa, dibuatkan jembatan kecil saja untuk anak sekolah. Sebesar rel kereta api pun tidak apa-apa,” katanya.

Menurut Dina, tanpa jembatan, aktivitas warga menjadi terganggu karena harus memutar jauh untuk mencapai akses transportasi.

“Kami mau ke pasar saja susah. Harus jalan jauh dulu baru naik angkutan. Tidak semua orang punya kendaraan pribadi,” ucapnya.

Baca juga : Lima Tahun Terlantar, Warga Tebing Tinggi Perbaiki Pembatas Jembatan Secara Mandiri

Ia juga mengkhawatirkan potensi kecelakaan saat menyeberang menggunakan pipa tersebut, seperti terpeleset dan jatuh ke sungai.

Senada, Fatma (56) mengatakan anaknya pernah mengalami luka saat melintasi jalur tersebut.

“Anakku tadi tergores pahanya di situ,” katanya.

Ia menuturkan warga tidak memiliki banyak pilihan selain melewati jalur tersebut. “Kalau tidak lewat situ, harus memutar jauh. Kalau tidak ada uang, ya berat juga,” ujarnya.

Fatma menambahkan jembatan tersebut sudah putus selama dua tahun dan berharap ada akses pengganti yang lebih aman.

Hal serupa disampaikan Nurhayati Tinambunan (67), warga yang telah 36 tahun tinggal di kawasan tersebut. Ia meminta pemerintah segera membangun jembatan darurat.

“Kami sangat berharap dibuatkan jembatan darurat untuk anak sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, putusnya jembatan juga berdampak pada aktivitas sosial warga.

Baca juga : Polresta Deli Serdang Renovasi Jembatan Presisi Kuala Sabah, Warga Kini Nikmati Akses Lebih Aman

“Sudah tidak bisa lagi ke pengajian dan wirid di seberang karena jembatan putus,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan 21 Kelurahan Kampung Baru, Lestari, mengatakan jalur tersebut kerap digunakan sebagai akses alternatif meski sudah dilarang.

“Sudah dihimbau, dipasang garis larangan, bahkan dipasang palang. Tapi masih ada yang nekat,” ujarnya.

Ia menjelaskan sebelum roboh, jembatan tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sudah beberapa kali diperbaiki sebelum akhirnya ambruk sekitar Oktober 2024.

Peristiwa itu sebelumnya sempat membuat Bobby Nasution, yang saat itu menjabat Wali Kota Medan, turun langsung meninjau kondisi jembatan tersebut.

Meski berbahaya, jalur itu tetap digunakan karena menjadi akses tercepat penghubung Kampung Baru dengan kawasan Polonia dan sekitarnya.

“Kalau memutar jauh bisa 15 menit lebih. Jadi warga memilih jalur ini karena lebih cepat,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada kejelasan terkait pembangunan kembali jembatan tersebut. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan demi keselamatan dan kelancaran aktivitas masyarakat.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan