Analisasumut.com
Beranda AKTUAL BPS Catat Ekspor Sumut Naik 11 Persen, Tapi Impor BBM Masih Mendominasi

BPS Catat Ekspor Sumut Naik 11 Persen, Tapi Impor BBM Masih Mendominasi

Kinerja perdagangan luar negeri Sumatera Utara (Sumut) pada awal tahun 2026 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor industri menjadi motor penggerak utama ekspor, sementara ketergantungan pada impor bahan bakar mineral (BBM) masih menjadi perhatian serius di tengah situasi global yang tidak menentu.

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, melaporkan bahwa nilai ekspor sektor industri pada periode Januari-Februari 2026 mengalami peningkatan sebesar 204,99 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau tumbuh 11,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kontribusi sektor industri terhadap total ekspor Sumut sangat dominan, yakni mencapai 94,73 persen. Sebaliknya, sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 18,77 persen.

Tiga negara tujuan ekspor terbesar periode Januari-Februari 2026, yaitu Tiongkok sebesar 362,72 juta dolar AS, Amerika Serikat sebesar 264,03 juta dolar AS, dan India sebesar 136,99 juta dolar AS.

Baca juga : Menteri Perdagangan Republik Indonesia Kunker ke Tebing Tinggi, Dorong UMKM Tembus Ekspor

“Kawasan Asia di luar ASEAN menyerap sekitar 39,13 persen barang ekspor kita, dengan Jepang dan Korea Selatan tetap menjadi pangsa pasar yang potensial,” kata Asim, Kamis (2/4/2026).

Dari sisi impor, Sumut mencatatkan nilai sebesar 895,85 juta dolar AS, naik 7,92 persen secara tahunan. Menariknya, meskipun impor barang modal turun 14,35 persen, impor bahan baku dan barang konsumsi justru meningkat.

Menjawab pertanyaan mengenai komoditas impor utama, Asim menjelaskan bahwa bahan bakar mineral (HS 27) kini menjadi prioritas utama bagi industri di Sumut.

“Impor bahan bakar mineral ini sekarang menjadi fokus karena semua negara sedang mencari minyak. Untuk kebutuhan industri kita, BBM masih menjadi komoditas dominan. Sejauh ini, pemerintah menjamin stok BBM kita cukup, sehingga kita harapkan situasi global cepat mereda agar suplai tidak terkendala,” ucap Asim.

Baca juga : Ekspor Pertanian & Industri Sumut Melesat 23% di Januari–Mei 2025

Selain BBM, golongan barang yang mengalami kenaikan impor tertinggi adalah pupuk sebesar 38,98 persen, yang mengindikasikan adanya upaya penguatan di sektor produksi pertanian/perkebunan domestik.

“Secara akumulatif pada Januari-Februari 2026, Sumut berhasil membukukan surplus neraca perdagangan sebesar 1.205,72 juta dolar AS. Khusus pada Februari 2026, surplus tercatat sebesar 684,86 juta dolar AS, naik 6,99 persen dibanding Februari 2025,” ujarnya.

Rincian neraca perdagangan menunjukkan surplus tertinggi dengan Amerika Serikat sebesar 204,27 juta dolar AS dan Tiongkok sebesar 119,80 juta dolar AS, sementara defisit terbesar terjadi dengan Singapura sebesar 86,14 juta dolar AS dan Malaysia sebesar 26,15 juta dolar AS.

Meskipun mencatatkan surplus, BPS mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap volatilitas harga komoditas global dan ketersediaan energi yang menjadi fondasi utama keberlangsungan industri manufaktur di Sumut.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan