Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Kemarau Panjang Hantam Simalungun, Irigasi Rusak Ancam Petani Gagal Panen

Kemarau Panjang Hantam Simalungun, Irigasi Rusak Ancam Petani Gagal Panen

Kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Simalungun mulai menekan sektor pertanian, khususnya di Kecamatan Sidamanik dan Panei. Minimnya curah hujan yang diperparah dengan rusaknya jaringan irigasi membuat pasokan air ke lahan pertanian kian terbatas, memicu kekhawatiran petani akan ancaman gagal panen.

Dibaca Juga : Kepsek SMPN 1 Sidikalang Diperiksa, Dugaan Belanja Fiktif Dana BOS 2025 Kian Menguat

Di Sidamanik, sejumlah petani mengaku kesulitan mengairi sawah akibat saluran irigasi yang tidak lagi berfungsi optimal. Agus Siagian, petani setempat, mengatakan kerusakan irigasi telah berlangsung cukup lama dan belum mendapat penanganan maksimal.

Akibatnya, distribusi air menjadi tidak merata. Bahkan, sebagian lahan tidak lagi teraliri air sama sekali dan telah beralih dari sawah menjadi lahan kering. “Kami sangat berharap ada bantuan dari Dinas Pertanian, khususnya mesin jet pump untuk membantu pengairan. Kalau hanya mengandalkan irigasi sekarang, sudah tidak cukup,” ujar Agus, Jumat (27/3/2026).

Ia menilai, penggunaan mesin pompa air menjadi solusi paling memungkinkan di tengah kondisi kemarau saat ini. Dengan alat tersebut, petani dapat memanfaatkan sumber air dari sungai maupun sumur untuk mengairi lahan mereka.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Panei. Rudi Manurung, petani padi di wilayah tersebut, mengungkapkan bahwa kekeringan mulai berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman.

Tak hanya petani sawah, petani lahan kering juga merasakan dampak yang tidak kalah berat. Maruli Sinaga, petani hortikultura di wilayah Panei, mengatakan tanaman cabai dan jagung miliknya mulai layu akibat kekurangan air sejak beberapa pekan terakhir.

“Kalau lahan kering, kami sepenuhnya bergantung pada hujan. Sekarang hujan jarang turun, jadi tanaman cepat kering. Kami juga butuh bantuan alat pompa atau sumur bor supaya bisa bertahan,” ujarnya.

Situasi ini dinilai tidak hanya mengancam produktivitas pertanian, tetapi juga berpotensi menekan ekonomi petani jika tidak segera ditangani. Petani khawatir biaya produksi yang telah dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh.

Mengacu pada prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sumatera Utara tahun ini berpotensi mengalami periode kemarau yang lebih kering akibat pengaruh fenomena iklim global seperti El Nino. Kondisi tersebut tentunya berdampak langsung pada sektor pertanian.

Sejalan dengan itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian sebelumnya mendorong langkah antisipasi berupa pompanisasi serta percepatan perbaikan jaringan irigasi tersier. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah meningkatnya risiko kekeringan.

Dibaca Juga : Wali Kota Tebing Tinggi Larang Penjualan Bantuan Pangan

Para petani di Sidamanik dan Panei berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, baik melalui perbaikan infrastruktur irigasi maupun bantuan alat pompa air, guna memastikan keberlangsungan produksi pertanian di tengah tekanan musim kemarau.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan