Analisasumut.com
Beranda Analisa NEWS Warga Sergai Adukan Satpam PTPN IV ke Polisi Terkait Penganiayaan dan Pengeroyokan

Warga Sergai Adukan Satpam PTPN IV ke Polisi Terkait Penganiayaan dan Pengeroyokan

Edi Saputra, 51 tahun, warga Kampung Lalang, Dusun V, Desa Tanjung Harap, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), secara resmi melaporkan Satuan Pengamanan (Satpam) atau centeng PTPN IV Regional I Kebun Sarang Giting atas nama Heru dkk. ke Polres Serdang Bedagai atas dugaan penganiayaan dan pengeroyokan, Senin (2/2/2026) sekitar pukul 11.45 WIB.

Laporan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang dialami korban tersebut tertuang dalam Nomor: STTLP/38/II/2026/SPKT/Polres Sergai/Polda Sumut.

Menurut Edi, penganiayaan dan pengeroyokan yang dialaminya terjadi di dalam mobil Ranger milik Kebun Sarang Giting saat dirinya akan dibawa ke Rumah Sakit Buah Hati Dolok Masihul dan Rumah Sakit Sri Pamela, Kota Tebing Tinggi, Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.

“Saya dibawa ke Rumah Sakit Buah Hati Dolok Masihul. Dalam perjalanan itu, saya disiksa dan dipukuli lagi oleh sopir menggunakan botol Aqua berisi air ke bagian yang berdarah. Darah semakin banyak mengucur. Kaki kiri dan kanan saya ditendang lagi, dan saya diancam akan disuntik mati serta dibuang ke sungai sebelum Kota Dolok Masihul. Yang saya tahu namanya Heru,” tuturnya.

Baca juga : Terduga Pelaku Pencurian Karet di PTPN IV Sarang Giting Alami Luka Saat Pengamanan

Tidak hanya sampai di situ, peristiwa mengerikan yang membuat trauma tersebut kembali dialaminya saat mobil yang membawanya berhenti di jembatan sungai yang berada di Dolok Masihul.

“Mobil sempat berhenti di jembatan sungai itu. Mau membuang saya ke sungai, kemudian tidak jadi karena ada orang memancing. Di situ saya trauma, terbayang anak istri saya kalau saya mati,” ucapnya.

Untuk itu, dirinya berharap Polres Sergai segera menindaklanjuti laporan tersebut secara transparan dan objektif.

“Saya berharap Polres Sergai segera menindaklanjuti laporan saya ini secara transparan. Kami ini orang susah. Tolonglah, Pak Polisi, bantu kami,” harapnya.

Diberitakan sebelumnya, Edi Saputra, 51 tahun, warga Dusun V Kampung Lalang, Desa Tanjung Harap, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), mengaku dianiaya oleh BKO PTPN IV Regional I Kebun Sarang Giting yang merupakan oknum TNI berdinas di kesatuan Brigif Rimba Raya berpangkat kopral berinisial B di depan masyarakat, tepatnya di pinggir jalan Desa Kota Tengah, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Selasa (27/1/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.

Penganiayaan yang dilakukan oknum TNI tersebut diduga terjadi karena korban dituduh melakukan pencurian karet sekitar 20 kilogram milik PTPN IV Kebun Sarang Giting.

Baca juga : PTPN IV Angkat Bicara soal Dugaan Pengeroyokan Warga di Kebun Tanjung Garbus

Akibat penganiayaan tersebut, kondisi Edi Saputra Nasution selaku korban sangat memprihatinkan hingga harus terbaring di rumah. Ia mengalami luka di bagian hidung sebelah kiri hingga sulit bernapas, empat gigi copot sehingga hanya bisa mengonsumsi bubur, mata kiri kabur, luka di pelipis sekitar tiga sentimeter, serta bagian belakang kepala bengkak dan sering terasa berdenyut. Selain melakukan penganiayaan, oknum TNI tersebut juga sempat memperlihatkan senjata api jenis FN dan mengokangnya di depan korban.

Menurut Edi Saputra Nasution, kronologi peristiwa berawal saat dirinya dan seorang temannya membawa karet sekitar 20 kilogram yang diduga milik PTPN IV Kebun Sarang Giting menggunakan sepeda motor jenis Revo Fit dengan nomor polisi BK 2004 ABQ. Mereka kemudian dikejar oleh oknum TNI berinisial B menggunakan sepeda motor jenis Yamaha MX. Setelah jarak semakin dekat, oknum tersebut menendang sepeda motor korban hingga terjatuh di pinggir jalan, tepatnya di Desa Kota Tengah.

“Saya ini ojek, mengantarkan getah atau karet punya orang ke agen getah. Saya selisih dengan BKO inisial B, kemudian BKO itu balik kanan mengejar kami sambil meneriaki kami maling sepeda motor. Karena saya panik, saya tancap gas, lalu karet yang dibawa teman saya dibuang. Tinggal kami berdua boncengan, kami terus dikejar dan diteriaki maling sampai ke Desa Kota Tengah. Karena situasi ramai, saya memperlambat sepeda motor,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu (21/1/2026) lalu.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan