Cegah Krisis Pasar Modal, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat Cari Pengganti Pejabat yang Mundur
Sektor jasa keuangan Indonesia tengah diguncang gelombang pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi. Setelah Direktur Bank Indonesia dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), kabar terbaru menyebutkan sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut meletakkan jabatan pada akhir pekan kemarin.
Dibaca Juga : Melawan Saat Ditangkap, Dua Maling Motor di Binjai Ditembak Polisi
Meski pada perdagangan, Jumat (30/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu ditutup menguat, kondisi ini dinilai sebagai situasi yang rawan jika tidak segera dimitigasi oleh pemerintah.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai penguatan IHSG di akhir pekan merupakan bentuk kompensasi pasar terhadap tekanan global, termasuk pemangkasan rekomendasi saham Indonesia oleh analis raksasa seperti Goldman Sachs menjadi underweight dan UBS Group AG menjadi netral.
“Pasar saham kita sudah mengkompensasi tekanan dari Goldman Sachs dan UBS. Namun, pengunduran diri berjemaah pejabat tinggi di sektor pasar modal ini bisa membuat pelaku pasar kebingungan. Pasar sangat membutuhkan kepastian dan kehadiran penyelenggara bursa itu sendiri,” kata Gunawan, Minggu (1/2/2026).
Salah satu poin krusial yang dinanti pasar saat ini adalah kejelasan arah kebijakan regulator agar pembekuan rebalancing indeks oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International) segera dihentikan. Tanpa adanya pejabat definitif yang memberikan kejelasan regulasi, kepercayaan investor internasional akan sulit pulih.
“Pemerintah harus segera menunjuk pengganti untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Harus ada pejabat yang bisa berkomunikasi dengan lembaga internasional seperti MSCI untuk meredakan tekanan. Arah kebijakan nantinya harus mampu mengakomodir kepentingan investor,” ucapnya.
Gunawan mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan kekosongan kursi pimpinan di lembaga otoritas keuangan. Menurutnya, masalah di pasar saham saat ini bersifat sangat sensitif dan berpacu dengan waktu.
“Masalah di pasar saham tidak bisa diabaikan begitu saja. Koreksi tajam berpeluang melebar dan meluas ke sektor lain yang bisa berujung pada krisis, jika dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya respons cepat dari pemerintah. Langkah cepat sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar modal tanah air di awal pekan depan,” ujarnya.
Dibaca Juga : Polres Binjai Gagalkan Penyelundupan 2.659 Liter BBM Ilegal, Jaringan Pelaku Diburu
Pemerintah diminta segera merespons situasi ini sebelum bursa dibuka kembali pada Senin pagi, guna memberikan sentimen positif dan mencegah aksi jual masif akibat ketidakpastian birokrasi di tubuh regulator keuangan.






