Melintasi Hutan dan Bukit Terjal, Potret Desa Sait Kalangan II Tukka Tapteng yang Terisolir Pascabencana
Hampir dua bulan berlalu, banjir bandang yang menghantam provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) masih menyisakan kisah duka dan puing puing kayu gelondongan. Sebuah kisah mengenai keterisoliran akibat banjir yang tidak mampu diakses hingga tersumbatnya bantuan.
Dibaca Juga : Petani Porsea Toba Berharap Pupuk Subsidi 2026 Stabil dan Harga Tak Melewati HET
Membutuhkan waktu seharian untuk menuju Desa Sait Kalangan II dan Tapian Nauli Saurmanggita, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumut. Karena untuk menempuhnya harus berjalan kaki karena sulitnya medan yang harus ditempuh. Dua desa itu adalah desa terisolir akibat banjir bandang 26 November yang lalu. Kondisinya berada di tengah hutan, dengan ketiadaan jaringan listrik apalagi internet.
Hingga saat ini dua desa itu masih terisolir akibat terputusnya akses. Terputusnya akses menuju kedua desa terpencil ini disebabkan Desa Sigiringgiring yang merupakan akses jalan satu-satunya menuju kedua desa itu telah hancur. Warga terpaksa harus memilih berjalan kaki melewati hutan belantara untuk bisa keluar dari desa untuk memperoleh bantuan atau memenuhi kebutuhan.
Material longsor menutupi akses jalan utama, merusak infrastruktur jalan dan jembatan, serta jaringan listrik dan telekomunikasi menuju kedua desa itu akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor pada 25 November 2025 lalu.
TNI dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng masih terus berupaya melakukan pembukaan akses jalan di Desa Sigiringgiring dengan mengerahkan alat berat dan tenaga manual untuk membuat jembatan penghubung tipe armco (gorong-gorong berbentuk pipa berbahan lembaran baja galvanis) sebagai jalur penghubung sementara untuk mempercepat pemulihan wilayah dan aktivitas masyarakat.
bersama Tim Relawan Pecinta Lingkungan Bandung, Jawa Barat menjelajahi dua desa tersebut pada Kamis (8/1/2026) dan kembali pada Sabtu (17/1/2026). Perjalanan harus menempuh 14,5 kilometer melewati wilayah perbukitan dengan ketinggian mencapai 60 hingga 80 derajat. Sekitar 8 jam lamanya mereka baru bisa tiba di desa tersebut.
Dari penuturan warga setempat diketahui informasi bahwa titik awal keberangkatan dari Simpang Sigiringgiring, Kelurahan Hutanabolon menuju Desa Sait Kalangan II harus menempuh perjalanan selama delapan jam atau 14,5 kilometer melewati wilayah perbukitan dengan ketinggian mencapai 60 hingga 80 derajat.
Dusun Malakka awal bencana
Setelah menyusuri sungai dan memulai pendakian awal sepanjang lebih kurang 2,5 kilometer kami tiba di lokasi peristirahatan pertama menuju Desa Sait Kalangan II, bersama Mareno Siregar, salah seorang relawan yang memandu membawa jalan. Warga setempat menamai tempat ini adalah lokasi Pemandangan atau tepatnya berada diatas pertengahan Kampung (Dusun) Malakka atau Lingkungan IV. Dari atas terlihat dusun ini sudah kosong, tidak ada satu bangunan yang tersisa, kondisinya seluruh bangunan telah terbawa dan tertimbun longsoran.
Dari Dusun IV Malakka ini masih terlihat jelas Kelurahan Hutanabolon dan dibagian atas puncak adalah Dusun Huraba lokasi peristirahatan kedua menuju menuju Desa Sait Kalangan II atau tepatnya di atas Desa Siginggiring yang seluruh desa hancur tertimpa longsor.
Pada Sabtu (22/11/2025) lalu, Dusun Malakka yang sebelumnya dihuni sebanyak 30 kepala keluarga (KK) ini adalah wilayah pertama yang tertimpa longsor sebelum kejadian banjir bandang menimpa Hutanabolon dan daerah sekitarnya. Saat kejadian tiga orang tewas di lokasi ini. Kawasan pegunungan longsor dan menutup aliran Aek Sipillit sehingga membentuk bendungan air.
Akibat intensitas curah hujan yang sangat tinggi hingga pada Selasa pagi (25/11/2025), aliran sungai Aek Sipilit yang sebelumnya sudah terbendung itu jebol dibarengi longsoran Dusun IV Malakka dan arus Aek Sipillit menyatu dengan sungai Pondok Bambu (Sungai Aek Sigalagala dan Aek Harsa) bersamaan menerjang Kelurahan Hutanabolon dan wilayah sekitarnya dengan membawa kayu gelondongan dan batu-batu besar yang menghabisi rumah warga seketika itu.
Lebih kurang 40 menit beristirahat di Dusun IV Malakka, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Dusun Huraba. Untuk sampai ke wilayah itu, harus mendaki perbukitan dengan ketinggian 80 derajat. Kami sempat merasa kuatir melanjutkan perjalanan karena tiba-tiba saja hujan lebat turun, sebab jalan perbukitan yang kami jalani adalah dari lereng perbukitan yang merupakan tepi longsoran, namun mengingat jarak tempuh yang masih jauh untuk dijalani maka niat untuk istirahat harus diurungkan.
Ternyata rasa kuatir bukan hanya di ketinggian pendakian perbukitan dan berjalan di tepi jurang longsoran, namun tantangan terberatnya adalah menyusuri di tengah hutan yang ternyata masih banyak berkeliaran hewan liar. Di tengah jalan kami masih melihat beberapa ekor ular, kera, rusa, siamang dan orangutan. Di Kawasan hutan ini pun masih banyak berkeliaran harimau sumatera.
Dusun Huraba yang mencekam dan ditinggalkan warga
Dengan kondisi lelah, nafas yang terengah-engah dan kaki pegal karena memacu perjalanan yang penuh rasa kekuatiran kami pun akhirnya tiba di lokasi peristirahatan ke dua di Dusun Huraba dan bertemu dengan warga Desa Sait Kalangan II yang akan turun ke Desa Hutanabolon untuk menjual buah durian yang sudah terkelupas.
Sebelum peristiwa banjir bandang dan tanah longsor, Dusun Huraba ini adalah lokasi yang selalu ramai dikunjungi warga Desa Sait Kalangan II dan Desa Tapian Nauli Saurmanggita karena dusun ini adalah pasar pekan setiap hari Senin.
Namun, ketika kami sampai di dusun ini, seluruh warga di Dusun Huraba ini telah mengungsi, warga memilih mengungsi karena di dusun ini telah dikelilingi longsoran. Mereka meninggalkan mobil, motor terparkir begitu saja di depan halaman rumah mereka. Begitu juga terlihat hewan peliharaan seperti ayam dan bebek berkeliaran begitu saja.
Tepat di persimpangan tiga di Dusun Huraba ini dulunya ada satu unit Masjid yang berdiri kokoh, tetapi bencana longsor pada 25 November 2025 lalu, Masjid Nurul Ikhwan Huraba ini hilang ‘ditelan’ longsoran tanpa menyisakan sedikit puing. Diketahui masjid ini juga sudah pernah tertimpa longsor pada Jumat (8/8/2025) lalu, namun oleh masyarakat setempat memperbaikinya kembali.
“Masjid ini sudah dua kali tertimpa longsor, tetapi longsor kedua saat bencana bulan November langsung hilang tanpa meninggalkan puing sedikit pun,” ujar Henri Tambunan warga Desa Sait Kalangan II.
Kondisi Dusun Huraba yang dulunya selalu ramai dikunjungi oleh warga kini sunyi tidak ada satu warga pun yang tinggal menempati rumah lagi. Dusun ini sekarang hanya lokasi perlintasan dan peristirahatan sejenak bagi warga yang turun maupun yang akan pergi ke Dusun Huta Raja dan Dusun Harimonting, Desa Sait Kalangan II.
Longsor parah menuju Dusun Huta Raja dan Harimonting
Satu jam beristirahat di Dusun Huraba, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Dusun Huta Raja dan Harimonting, Desa Sait Kalangan II. Dalam perjalanan menuju kedua dusun ini sudah sore hari. Rasa cemas kembali datang ketika hujan lebat kembali turun. Tas ransel yang disandang terasa semakin berat karena basah, dan ditambah kabut yang tebal menutupi badan jalan, kami terus melangkah dengan menghidupkan senter di kepala.
Sepanjang perjalanan terasa begitu hening, yang terdengar hanyalah teriakan suara Orangutan Tapanuli dan kera-kera liar yang saling bersahutan dari kejauhan di tengah hutan Bukit Barisan itu. Untuk diketahui, Desa Sait Kalangan II dan Desa Tapian Nauli Saurmanggita ini mencakup kawasan hutan tropis lintas Kabupaten yakni hutan Tapteng berbatasan langsung dengan hutan Kecamatan Batang Toru Tapanuli Selatan (Tapsel) dan hutan Kecamatan Pahae Tapanuli Utara (Taput) yang merupakan termasuk kawasan Ekosistem Batang Toru.
Di kawasan Ekosistem Batang Toru ini masih ada berbagai jenis tumbuhan langka seperti pohon meranti, pohon kapur, bunga bangkai, rafflesia, serta hewan liar yang dilindungi seperti Orangutan Tapanuli, Rusa, Pelanduk dan Harimau Sumatera yang terancam punah karena kehadiran perusahaan dan pembalakan liar.
Kondisi jalan masih dipenuhi lumpur akibat longsor parah di sepanjang jalan menuju kedua dusun ini. Saat akan tiba di Dusun Huta Raja, sangat miris melihat beberapa rumah warga yang rusak parah dihantam longsoran dari perbukitan. Banyak jalan yang dilalui terputus menjadi aliran sungai kecil dan tiang listrik di pinggir jalan bertumbangan begitu saja ditengah jalan.
Satu unit alat berat milik Pemkab Tapteng terlihat terpuruk ditinggalkan begitu saja di tengah longsoran. Alat berat ini awalnya akan memperbaiki jalan yang sebelumnya sudah longsor sebelum peristiwa banjir bandang dan longsor pada 25 November 2025 lalu.
“Warga di sini sudah berupaya bergotong royong untuk mengeluarkan alat berat ini dengan menyusun batang kayu untuk membuat jalan alat berat, namun karena tanahnya sangat labil, alat berat terpuruk dan tidak bisa dikeluarkan lagi,” ujar Rudi Sitompul warga setempat.
Kami pun akhirnya tiba di Dusun Huta Raja yang disambut suara azan magrib dari masjid kecil bernama Masjid Al Jihad di daerah itu. Beberapa warga mulai terlihat yang rumahnya masih aman dari longsoran yang langsung menyapa dan mempertanyakan kami dari mana dan akan kemana.
Rasa cemas itu langsung hilang saat tiba Dusun Huta Raja karena Dusun Harimonting sebagai lokasi tujuan utama kami sudah di depan mata. Begitu tiba di Dusun Harimonting oleh warga setempat langsung menyuguhkan buah durian yang saat itu sedang musim di dusun itu.
Lima hari bertahan hidup, makan ubi dan durian muda
Desa Sait Kalangan II dikenal sebagai salah satu penghasil buah durian di Kabupaten Tapteng. Setiap musimnya, ribuan butir buah durian dari desa ini diangkut dan dikirim untuk diperjual-belikan ke berbagai daerah. Namun karena kondisi yang masih terisolir pascabencana, buah durian itu dijual dengan harga murah.
”Kami tidak lagi menjual buah durian per butir, namun dijual setelah dikupas dengan harga Rp13.000 per kilogram. Itupun kami harus turun ke Jae (Hutanabolon) untuk membawa duriannya,” ujar Sabar Simanungkalit, warga Dusun Harimonting.
Ia menuturkan tidak ada lagi warga yang datang ke desa mereka untuk langsung memborong durian seperti tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, saat musim buah durian, para pengepul durian langsung datang ke desa mereka dan menitipkan uang kepada warga untuk mengumpulkan durian.
“Sekarang paling banyak durian kupas yang bisa kami bawa ke Hutanabolon hanya berkisar 40 kilogram dengan kondisi harus berjalan kaki satu harian menuju Hutanabolon,” katanya.
Sabar mengungkap, pascabencana 25 Nopember 2025 lalu, warga Desa Sait Kalangan II selama 5 hari harus bertahan hidup hanya makan ubi kayu dan buah durian muda karena tidak ada pasokan dan bantuan makanan yang datang ke desa mereka karena warga tidak tahu ada kejadian banjir bandang dan longsor di bawah desa mereka tepatnya di Desa Hutanabolon. Warga hanya tahu bencana alam hanya terjadi di Desa mereka.
“Waktu pascabencana hari selasa pagi kira-kira jam 8. Jadi tiba-tiba perbukitan yang di belakang rumah ini longsor. Jadi kami nggak sempat waktu selasa pagi mau belanjakan ke Hutanabolon. Kami tidak tahu kejadian disana, ternyata sudah terjadi bencana,” ucapnya.
Sabar mengatakan, saat kejadian bencana, tidak ada jaringan komunikasi dan listrik padam. Akhirnya seluruh warga Desa berkumpul di Gereja HKBP Harimontong dan menyepakati mengutus dua orang sebagai perwakilan warga untuk turun ke Hutanabolon.
“Salah satunya saya yang dipilih yang turun ke Hutanabolon. Tugas kami adalah melaporkan kejadian bencana ini ke pemerintah dan untuk mengetahui kabar anak-anak warga disini yang sedang sekolah di Tukka,” tuturnya.
Menurutnya, saat turun menuju Hutanabolon, mereka masih melewati jalan lama. Akhirnya mereka baru mengetahui bahwa Desa Sigiringgiring telah hancur dan tidak bisa dilewati, yang pada akhirnya memilih jalan dari hutan dan baru sampai ke Desa Sipange sekira pukul 20.00 WIB malam yang ternyata desa itu juga luluh lantak dihantam banjir bandang dan longsor.
“Malamnya kami memutuskan bermalam di pengungsian di Desa Sipange dan pagi harinya kami melaporkan ke pemerintah soal kejadian bahwa warga Sait Kalangan II sudah kehabisan pasokan makanan dan warga sudah makan ubi dan buah durian muda. Selanjutnya kami mencari kabar keberadaan anak-anak kami. Puji Tuhan, ternyata mereka selamat dan sehat-sehat,” ucap Sabar dengan nada sedih kala mengingat perjuangan menempuh perjalanan melewati hutan belantara.
“Kira-kira menjelang 5 hari pascabencana, baru masuklah pertama membawa bantuan logistic makanan melalui helikopter angkatan laut hingga sekarang,” ujar Sabar menambahkan.
Saat ini, sambung Sabar, warga Desa Sait Kalangan II telah banyak mengungsi memilih pindah meninggalkan desa mereka. Namun khusus di Dusun Huta Raja dan Dusun Harimonting, masih ada penduduk yang bertahan hidup sebanyak 50 persen dari kurang lebih 150 jumlah kepala keluarga di dua dusun itu.
“Saya tidak akan pergi meninggalkan kampung ini. Saya sangat sayang dengan kampung ini,” ucap Sabar, seraya berharap agar pemerintah segera memperbaiki infrastruktur jalan menuju desa mereka sehingga warga dapat kembali beraktivitas dengan normal seperti sebelumnya.
SD Negeri Harimonting Rusak Berat
Satu-satunya sekolah di Desa Sait Kalangan II adalah SD Negeri 152985 Harimonting. Sekolah itu turut hancur dihantam longsor karena perbukitan yang persis di belakang sekolah longsor dan menimpa 4 ruang kelas dan dua unit perumahan guru.
Kondisi itu membuat siswa hingga saat ini tidak berani datang ke sekolah untuk belajar. Untuk proses belajar mengajar, guru dan siswa SD 152985 Haramonting memakai sementara gedung Balai Desa Sait Kalangan II.
Lidia Natalia Simanullang salah satu tenaga pendidik di sekolah itu mengatakan proses belajar mengajar masih tetap dilakukan, namun dipindah ke Balai Desa. Walau masih ada ruang kelas yang masih selamat dari terjangan longsor tetapi ruangan kelas itu tidak berani dipakai karena kuatir perbukitan di belakang sekolah longsor susulan datang kembali.
“Untuk saat ini kami memakai Balai Desa sebagai tempat bermain, belajar menyenangkan, untuk menghibur anak-anak, menghindari trauma. Kejadian longsor yang menimpa sekolah ini sudah kami laporkan ke Dinas Pendidikan Tapteng,” ujar Lidia.
Ia mengatakan, kejadian longsor terjadi dua kali, pada tanggal 24 November 2025 lalu saat intensitas hujan sangat lebat, longsor pertama tepatnya pada jam 4 pagi dini hari menimpa kamar mandi sekolah dan pada saat jam 6 pagi, longsor kedua terjadi lagi menimpa ruangan sekolah.
“Ada tiga ruangan kelas yang paling parah dan satu ruangan kelas yang rusak ringan, serta dua unit perumahan guru,” ucap Lidia.
selama dua minggu di Desa Sait Kalangan II, kondisi perbukitan hutan banyak yang longsor. Hutan di Desa Sait Kalangan II dan Desa Tapian Nauli Saurmanggita adalah merupakan salah satu daerah hulu yang memiliki peranan penting dalam penyerapan air ke Kabupaten Tapteng dan banyak satwa yang dilindungi hidup didalamnya.
Dibaca Juga : DPRD Sumut Soroti Lemahnya Implementasi UHC di Daerah, Serdang Bedagai Ikut Disinggung
Akibat hutan yang banyak gundul karena bencana longsor beberapa waktu lalu akan memungkinkan kembali mengancam terjadinya banjir besar dan juga banjir bandang di Kabupaten Tapteng apabila pemerintah tidak segera turun tangan menangani untuk melakukan penanaman hutan yang rusak kembali.






