Kementerian ESDM Dorong SPBU Swasta Negosiasi dengan Pertamina demi Kelancaran Pasokan Solar
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta badan usaha pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta, seperti Shell, bp, dan Vivo, untuk melakukan negosiasi dengan Pertamina terkait pembelian produk solar dalam negeri.
Dibaca Juga : PN Medan Jadwalkan Sidang Perdana Empat Tersangka Korupsi Citraland Pekan Depan
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada seluruh badan usaha pada Desember 2025 agar segera memulai proses negosiasi tersebut. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah yang tidak akan memperpanjang tambahan kuota impor solar CN48 mulai Maret 2026.
“Kami bulan Desember kemarin sudah mengirimkan surat ke seluruh badan usaha untuk melakukan proses negosiasi dengan Pertamina,” ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip dari Antara.
ESDM) meminta badan usaha pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta, seperti Shell, bp, dan Vivo, untuk melakukan negosiasi dengan Pertamina terkait pembelian produk solar dalam negeri. Ia menjelaskan, ke depan SPBU swasta akan menyerap produksi solar dari Kilang Balikpapan yang baru selesai direvitalisasi melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP). Produksi kilang tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Maret nanti kami sudah tidak bisa memperpanjang untuk tambahan kuota solar. Jadi dari produksi RDMP Balikpapan itu semua nanti diserap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Laode.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan menghentikan impor solar untuk SPBU swasta mulai 2026. Menurutnya, apabila masih terdapat kargo solar yang masuk ke Indonesia pada Januari atau Februari, hal tersebut merupakan sisa impor tahun 2025.
“Tetapi tahun ini, Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden Prabowo Subianto, karena kita punya kilang sudah ada, kita tidak lagi mengeluarkan impor,” ujar Bahlil.
Kilang RDMP di Refinery Unit V Balikpapan, Kalimantan Timur, memiliki kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel per hari atau setara 22-25 persen dari kebutuhan nasional. Proyek tersebut diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian energi nasional, termasuk penghematan impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar Rp514 triliun.
Dibaca Juga : Pembangunan Gerai dan Gudang Kopdes Merah Putih di Sumut Capai Progres 8 Persen
Bahlil juga mengonfirmasi bahwa ke depan SPBU swasta akan membeli pasokan solar dari Pertamina. Pemerintah pun mendorong agar produksi bahan bakar minyak dengan berbagai oktan dapat dilakukan di dalam negeri guna memperkuat ketahanan energi nasional.






