Serma TNI Tengku Dian Bunuh Istri: Diduga karena Cemburu dan Kecanduan Judi Online
Oknum TNI AD berpangkat Serma, Tengku Dian Anugerah (TDA), diduga membunuh istrinya, Astri Gustina Ayu Yolanda, di Deli Serdang.
Pelaku ditangkap Polisi Militer Kodam I/BB di Bandara Kualanamu usai melarikan diri dari lokasi kejadian.
Korban mengalami lebih dari delapan luka tusukan, sebelum akhirnya meninggal dunia.
Sebelum peristiwa tragis yang menewaskan Astri Gustina Ayu Yolanda (35), keluarga menyebut rumah tangga korban dengan suaminya, Serma TDA, telah lama retak akibat kekerasan dalam rumah tangga dan kecanduan judi daring.
Sementara itu, Kakak kandung korban, Novi menyebut, nyawa adiknya dihabisi Serma Tengku Dian karena diduga pelaku kecanduan judi online. Buntut dari dugaan kecanduan judol itu, pelaku pun ringan tangan.
Bahkan, kata Novi, pelaku tidak lagi memberi nafkah karena diduga uangnya habis untuk bermain judol.
Selain itu, antara korban dan pelaku pun sudah pisah ranjang hingga tidak lagi tinggal serumah sejak 3 bulan belakangan.
Baca Juga : Diduga Perkosa Nenek 81 Tahun, Seorang Pria Diamuk Massa di Sergai
“Adik saya pergi dari rumah usai Hari Raya Haji kemarin, karena dipukul suaminya dan tinggal sama mamak kami di kilometer 18, Kota Binjai. Semenjak itu, mereka pisah ranjang karena adik saya enggak tahan,” ujar Novi.
Korban merupakan anak ketiga dari 5 bersaudara. Pernikahan korban dengan pelaku dikaruniai 4 orang anak, dan buah hati paling besar saat ini mengenyam bangku sekolah menengah pertama kelas 8.
“Adik saya sudah tidak tahan lagi. Sejak lebaran kemarin dia memilih tinggal bersama kami,” ujar Novi di RSUD Djoelham Binjai saat menunggu proses autopsi jenazah.
Teriakan minta tolong yang terdengar pada Rabu pagi (23/ 7/2025) menjadi awal terungkapnya tragedi berdarah di Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang.
Astri yang baru saja mengantar anaknya ke sekolah kembali ke rumah tersebut sedang terlibat pertengkaran dengan suaminya, Serma Tengku Dian Anugerah.
“Kami dengar suara berantem, menjerit minta tolong. Jadi warga berdatangan, kami lihat korban sudah tergeletak di pintu samping rumah,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Latersia Binjai dalam kondisi kritis, namun nyawanya tidak tertolong.
Seorang tetangga korban, Siska, mengaku mendengar suara perempuan dari arah rumah korban sekitar pukul 07.30 WIB.
Siska dan suaminya segera memeriksa dan mendapati Astri dalam kondisi lemas dan bersimbah darah, duduk di kursi plastik dekat pintu samping rumah. Korban mengalami luka di dada dan bagian tubuh lainnya.
“Kami langsung panik, dan suami saya panggil warga lain. Polisi datang tak lama setelah itu,” ujar Siska.
Kejadian tersebut menggemparkan warga sekitar. Garis polisi terpasang di rumah korban, dan sejumlah personel militer tampak berjaga.
Masyarakat berharap kasus ini bisa diusut tuntas. Suasana sedih terpancar di rumah duka.
Di tengah wawancara media dengan kakak ipar korban, Fadhil, prajurit TNI berpakaian dinas lengkap dengan balok dua lis merah di kerah bajunya menghampiri Fadhil.
Langkah itu dilakukan prajurit TNI diduga untuk melarang keluarga korban bersuara kepada wartawan. “Dipanggil pak Mardianto,” ujar prajurit TNI yang tertulis di papan namanya CP Manalu.
Kepada prajurit itu, wartawan meminta waktunya sekejap untuk menyelesaikan wawancara lebih dulu. Namun, permintaan wartawan tak dihiraukan.
Tak lama berselang, prajurit TNI yang lain dengan pangkat mayor berinisial M mendatangi Fadhil dan kemudian merangkulnya untuk menjauh dari wartawan. Diduga prajurit itu melakukan intervensi kepada Fadhil.
“Aku capek diintervensi kayak gini bang, gas terus pemberitaannya,” ujar Fadhil saat kembali menemui wartawan.
“Di RSUD Djoelham juga tadi gitu. Saya diintervensi jangan foto dan video lah. Terus dipaksa untuk menandatangani surat pernyataan tidak melakukan autopsi. Cuma tadi hanya melakukan autopsi luar,” sambungnya.
Kata Fadhil, pria yang berpangkat mayor itu diduga paman Serma TDA.
“Itu pamannya. Padahal kami sudah memberitahu paman pelaku ini. Sudah mau kami laporkan pelaku karena suka main tangan itu,” tandas Fadhil.






